aji saka dan nabi muhammad

BanjurAji Saka diaterake ngadhep prabu Dewata Cengkar. Prabu Dewata Cengkar ya rumangsa eman lan kersa ngangkat Aji Saka dadi priyayi, nanging Aji Saka ora gelem. Ana siji panyuwune, yaiku nyuwun lemah saiket jembare. Sing ngukur kudu sang prabu dhewe. Sang prabu Dewata Cengkar iya banjur nglilani. SuroBulan Sakral, Kedatangan 'Aji Saka' untuk Selamatkan Masyarakat dari Genggaman Makhluk Ghaib 10 Agustus 2021, 17:34 WIB. Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, mataram Islam, ke Jawa, Suro Bulan Sakral, Kedatangan Aji Saka untuk Selamatkan Masyarakat 3 Dikatakan bahwa sewaktu Mi’raj, Nabi menjemput atau menerima perintah Shalat dari ALLAH, kemudian sesudah berjumpa dengan Musa, beliau naik kembali berulang kali menemui ALLAH untuk memohon keringanan. Hal ini menyimpulkan bahwa ALLAH tidak ada di Bumi atau di langit tempat Nabi Musa itu berada. Ataupenangalan Tahun Saka bagi suku Jawa yang berasal dari Raja Aji Saka. Menurut dongeng atau mitos, Aji Saka diyakini sebagai raja keturunan dewa yang datang dari India untuk menetap di Tanah Jawa. Penetapan nama Tahun Hijriyah (al-Sanah al-Hijriyah) merupakan kebijaksanaan Khalifah Umar. Indonesian asal usul banyuwangi dalam bahasa jawa merujuk data sejarah yang ada, sepanjang sejarah blambangan kiranya tanggal 18 desember 1771 merupakan peristiwa sejarah yang paling tua yang patut diangkat sebagai hari jadi banyuwangi. sebelum peristiwa puncak perang puputan bayu tersebut sebenarnya ada peristiwa lain yang mendahuluinya, yang juga heroik-patriotik, Dibalik itu, Sultan juga ingin menyatukan dua kubu masyarakat Jawa yang terpecah akibat berbeda keyakinan, yakni penganut Kejawen (kepercayaan orang Jawa dengan Putihan (Kepercayaan Islam). Malam 1 Suro dipercaya sebagai datangnya Aji Saka ke Pulau Jawa. Mitosnya, itu dapat membebaskan rakyat dari genggaman makhluk gaib. AksaraHanacaraka iku sawijining aksara sing digunakaké ing Tanah Jawa lan saubengé kaya ta ing Madura, Bali, Lombok lan uga Tatar Sundha.Aksara Hanacaraka iku uga diarani aksara Jawa nanging sajatiné ukara iki kurang sreg amarga aksara Jawa iku warnané akèh saliyané iku aksara iki ora mung dienggo nulis basa Jawa waé. Aksara iki uga dienggo Yangjelas, AJi Saka memahami kultur Jawa dan berhasil melakukan akulturasi dalam penyampaian ajaran luhur tentang spiritualitas Islam. Huruf Jawa itu adalah Ha na ca ra ka Sastra Jendra inilah yang diterima oleh Nabi Muhammad di gua hira. “IQRA” itulah sastra jendra. Sastra Jendra artinya adalah Ayat Allah. Sastra=ayat, Jendra=Tuhan/Allah Inilahaji saka dan nabi muhammad dan ulasan lainnya yang berkaitan erat dengan topik aji saka dan nabi muhammad serta aneka informasi dunia misteri yang Anda butuhkan. Silhkan klik pada judul artikel-artikel berikut ini untuk membaca penjelasan lengkap tentang aji saka dan nabi muhammad. Semoga bermanfaat! Perjalananmenuju Medang Kamulan tidaklah mulus, Aji Saka sempat bertempur selama tujuh hari tujuh malam dengan setan penunggu hutan, karena Aji Saka menolak dijadikan budak oleh setan penunggu selama sepuluh tahun sebelum diperbolehkan melewati hutan itu. Tapi berkat kesaktiannya, Aji Saka berhasil mengelak dari semburan api si setan. . Jakarta - Aksara Jawa merupakan aksara yang digunakan sebagai sarana penulisan pada zaman dahulu. Aksara ini disebut juga dengan Hanacaraka, Carakan, dan diketahui secara pasti kapan aksara Jawa mulai dikenal dan digunakan untuk menyebarkan informasi. Sebelum berkembang menjadi ha-na-ca-ra-ka, aksara ini lebih dikenal sebagai aksara Jawa Kuno, menurut sejumlah penelitian paleografi di Aksara JawaTokoh Aji Saka disebut-sebut sebagai pencipta aksara Jawa, menurut catatan sejarah populer. Dikutip dari buku Makna Simbolik Legenda Aji Saka yang ditulis oleh Slamet Riyadi, Aji Saka bukanlah pencipta Aksara Jawa melainkan pembangun dan penyempurnaan aksara Serat Aji Saka dalam kumpulan teks Suluk Plenceung koleksi Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah mendapatkan wejangan ilmu kesempurnaan dari Begawan Antaboga, Raden Aji pergi ke Mekah untuk berguru kepada Nabi Muhammad perjumpaan itu, Aji Saka diminta untuk menciptakan aksara sebagai perimbangan aksara Arab. Ia kemudian menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka yang berjumlah 20. Diperkirakan aksara diciptakan pada abad itu, pendapat lain sebagaimana diutarakan oleh Hadisoetrisno, pencipta aksara ha-na-ca-ra-ka adalah Prabu Nur Cahya atau Sang Hyang Nur Cahya di negeri Dewani yang memiliki tanah jajahan sampai negeri Arab dan Nur Cahya merupakan putra Sang Hyang Sita atau Nabi Sis. Selain aksara Jawa, dia diketahui menciptakan aksara Latin, Arab, China, dan lainnya. Aksara tersebut disebut Sastra Hendra Prawata. Dalam hal ini, Aji Saka berperan sebagai pembangun dan penyempurna bentuk aksara Jawa sebagaimana disempurnakan oleh Aji Saka terdiri dari 20 aksara. Dikutip dari buku Pelestarian dan Modernisasi Aksara Daerah yang disusun oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, terdapat arti kata yang menjadi hafalan sebagaimana tertulis dalam Layang Ha-na-ca-ra-ka, sebagai berikutha na ca ra ka ada utusanda ta sa wa la mereka saling tidak cocokpa dha ja ya nya sama-sama unggulma ga ba tha nga sama-sama menjadi mayatJenis-jenis Aksara Jawa LengkapDikutip dari buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk, berikut aksara Jawa lengkap dengan pasangan dan juga Aksara Jawa dan PasangannyaAksara Jawa terdiri dari 20 aksara. Untuk menekan vokal konsonan di depannya, dibutuhkan pasangan dari masing-masing Jawa dan pasangannya. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk2. Aksara MurdaAksara Jawa jenis ini digunakan untuk menulis awal kalimat dan bisa digunakan untuk menulis gelar, kota, dan murda dan pasangannya. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk3. Aksara SwaraAksara swara merupakan huruf vokal yang terdiri dari A I U E swara. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk4. Aksara WilanganAksara wilangan digunakan untuk menuliskan wilangan. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk5. SandhanganSandhangan merupakan simbol tambahan yang digunakan untuk menuliskan huruf aksara Jawa. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkkContoh Penggunaan Aksara JawaUntuk lebih jelasnya, berikut contoh penulisan aksara Jawa yang diberi pasangan dan Buku Sinau Maca Aksara Jawa oleh Bejo Simak Video "Suasana Tradisi Apitan di Semarang" [GambasVideo 20detik] kri/lus Prabu Dewata Cengkar, Raja Jahat yang Suka Makan Daging Manusia Ada kerajaan Medang Kamulan yang dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar, seorang Raja yang sangat jahat dan suka memakan daging manusia. Tidak ada seorang pun yang berani menentang keinginan Prabu Dewata Cengkar. Kemudian berita tentang kerajaan Medang Kamulan sampai di telinga Aji Saka, seorang sakti yang memiliki dua pengawal setianya. Kemudian Aji Saka ditemani Dora dan Sembada pergi ke Medang Kamulan untuk menolong rakyat di sana melawan Prabu Dewata Cengkar. Sebelum tiba di Medang Kamulan, mereka singgah di pegunungan Kendeng. Di sana Aji Saka berpesan kepada Sembada agar menjaga kerisnya dan jangan memberikan kepada siapapun. Selanjutnya Aji Saka dan Dora melanjutkan perjalanannya melawan Prabu Dewata Cengkar. Aji Saka Berhasil Mengalahkan Dewata Cengkar dengan Melilitnya Pakai Kain Dalam pertempuran sengit, Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar dengan melilitnya pakai kain. Aji Saka pun kemudian dinobatkan sebagai raja. Suatu hari, Aji Saka teringat akan kerisnya. Aji Saka pun meminta Dora untuk mengambil keris yang berada di tangan Sembada di Pegunungan Kendeng. Dora pun pergi ke pegunungan Kendeng menemui Sembada. Pertarungan Dora dan Sembada Demi Menjaga Keris Milik Aji Saka Akan tetapi Sembada menolak untuk memberikan keris itu. Sembada masih ingat pesan Aji Saka untuk tetap menjaga keris pusaka itu, sampai Aji Saka sendiri yang datang mengambilnya. Akhirnya, dengan berat hati Dora dan Sembada bertarung untuk melaksanakan amanat yang telah diembannya.’ Karena tak kunjung datang, Aji Saka kemudian menyusul Dora ke pegunungan Kendeng. Betapa terkejutnya Aji Saka melihat dua orang kepercayaannya, Dora dan Sembada, sudah tewas. Rupanya mereka bertarung sampai mati demi memegang amanat yang telah mereka emban. Dora dan Sembada bertarung sampai meninggal demi menjaga keris milik Aji Saka Asal Mula Huruf Carakan Untuk Mengenang Kesetiaan Dora dan Sembada Aji Saka baru teringat akan pesan yang pernah ia sampaikan kepada Sembada untuk tidak memberikan keris itu kepada siapa pun. Aji Saka merasa bersalah kepada keduanya. Untuk mengabadikan kesetiaan kedua pengawalnya, Aji Saka menulis huruf-huruf di sebuah batu yang kemudian dikenal dengan nama Carakan. Cerita Rakyat Provinsi Jawa Tengah Pesan MoralKesetiaan adalah suatu sikap mulia seorang kesatria. Pertarungan sengit antara Aji Saka dan prabu dewata cengkar Raksasa Pemakan Manusia Cover Buku 101 Cerita Nusantara Dongeng tidak saja memberikan hiburan bagi anak-anak. Melalui dongeng anak bisa juga meningkatkan apresiasi terhadap sastra dan seni serta mengolah imajinasi. Selain itu lewat dongeng anak bisa mengenal nilai-nilai moral dan hati nurani yang terselip di balik pesan cerita. Dongeng tidak saja memberikan hiburan bagi anak-anak. Melalui dongeng anak bisa juga meningkatkan apresiasi terhadap sastra dan seni serta mengolah imajinasi. Selain itu lewat dongeng anak bisa mengenal nilai-nilai moral dan hati nurani yang terselip di balik pesan cerita. Disadari atau tidak dongeng bisa merasang anak belajar dan bisa tergugah menjadi gemar membaca dan mencintai buku. Bahkan tidak sedikit anak cerdas yang minat bacanya dimulai dari menyimak buku-buku fiksi dan dongeng. Dari sisi bahasa, melalui dongeng pun anak dikenalkan pada berbagai ragam kosakata. Pengayaan pada kosakata pun secara otomatis akan menambah perbendaharaan kata anak. Sebenarnya masih banyak lagi manfaat dari suguhan dongeng untuk anak. Seperti yang disebutkan dalam pembukaan buku 101 Cerita Nusantara. Di antaranya, lewat dongeng, rasa empati anak Anda pada para tokoh dalam cerita bisa terbangun. Selain itu lewat dongeng, kecerdasan emosional, spiritual, dan kepekaan sosial anak bisa terasah. Buku 101 Cerita Nusantara mencoba mengumpulkan kembali ingatan orang tua akan kekayaan cerita-cerita yang tersebar di bumi Indonesia. Timun Mas dari Jogjakarta, Si Lebai Malang dan Maling Kundang dari Sumatera Barat, Si Pitung Jago Betawi, Pangeran Naga dan Buaya dari Kalimantan Tengah, serta masih banyak lagi dongeng bisa Anda temukan dalam buku ini. Buku penuh warna dengan ilustrasi gambar yang memikat ini akan mendampingi aneka kisah yang berupa fabel, legenda, epos, mitos, dan sejarah. Semua kisah-kisah ini bisa Anda sampaikan pada buah hati Anda sebagai pengantar tidur dan untuk membangun kedekatan dengan anak. Dalam setiap dongeng dalam buku yang disusun oleh Tim Optima ini selalu diakhiri dengan pesan moral, sehingga anak akan lebih mudah mengenali apa pesan yang terkandung dalam kisah. Perjumpaan dengan aneka karakter manusia dan binatang dalam dongeng pun sangat mengasyikkan. Sebab hal-hal di luar akal sehat seperti keajaiban alam dan mukjizat bisa mengasah keyakinan dan imajinasi anak. Tentu saja dengan pesan moral yang mudah ditangkap, misalnya kejadian yang luar biasa itu hanya bisa terjadi atas seizin Tuhan Yang Maha Esa. Sembari membacakan dongeng orang tua bisa kembali mengingat kisah-kisah yang mungkin belum pernah ia jumpai. 101 dongeng dalam buku yang diterbitkan Transmedia ini dituliskan dalam bentuk cerita-cerita pendek. Keistimewaan dan Manfaat Buku 101 Cerita Nusantara Efektif untuk metode pembelajaran buah hati sejak dini kepada buah hati Anda nilai-nilai keteladanan, moralitas, hati nurani, dan budi 101 cerita pilihan dari 34 Provinsi di Indonesia yang dikemas secara singkat, sederhana, atraktif, dan dengan ilustrasi yang akhir setiap cerita dilengkapi dengan pesan moral untuk membantu buah hati Anda memetik nilai-nilai keteladanan dan apresiasi buah hati Anda terhadap nilai sastra dan buah hati Anda minat baca buah hati rasa empati buah hati Anda pada para tokoh dalam kecerdasan emosional, spiritual, dan kepekaan sosial buah hati kecerdasan emosional, spiritual, dan kepekaan sosial buah hati kedekatan Anda dengan buah hati buah hati Anda mencintai buku, sekaligus menjadikannya teman bermain. Nama Bayi Berdasar Aksara Depan A B C D E F G H I J K L M N Udara murni P Q R S T U V W X Y Z Kemustajaban Nama Orok Muhammad Tuanku Saka Nama nan Anda cari yaitu Muhammad Baginda Saka n kepunyaan banyak kelebihan dari berbagai asal bahasa, Kami menghimpun dan menyimpan sejumlah arti etiket dari Muhammad Aji Saka, diantaranya adalah berasal dari bahasa indonesia, jawa, indonesia – aceh, indonesia-aceh, ki kenangan, arab, islami, segel nabi, sansekerta, dan kawi yang saban bahasa n kepunyaan kekuatan nan farik, stempel Muhammad Aji Saka kembali semupakat untuk dijadikan nama cak bagi bayi Anda yang berjenis kelamin laki-suami maupun dayang. Memilih tanda kerjakan bayi Kamu memang gampang-gampang susah dan mohon untuk tidak sumber akar asalan, sebab Segel akan menjadi identitas seangkatan hidup untuk anak asuh Sira. Takdirnya Anda telah mempunyai ide bagi tera kanak-kanak anyir Anda, tidak salahnya menyedang buat melakukan testimoni dan mencari tahu lebih detail kerjakan arti dari nama tersebut. Seperti halnya dengan nama Muhammad Aji Saka, barangkali pula nama tersebut memiliki arti bukan dari asal bahasa nan berbeda pula. No. Merek Kelamin Asal Arti Tera 1. Aji Maskulin Indonesia Perkembangan penghidupan yang tentram, merdeka, bahagia dan sempurna 2. Aji Suami-laki Indonesia Sunan 3. Emir Junjungan-laki Jawa Kesaktian, ilmu sakti, berharga 4. Aji Laki-laki Jawa Kesaktian, guna-guna sakti, berharga 5. Aji Amoi Indonesia – Aceh Haji 6. Paduka Perawan Indonesia-aceh Haji 7. Muhammad Pria Sejarah Bentuk tidak terbit Mohammed 8. Muhammad Adam Arab Bagan lain dari Mahomet Berdoa dengan baik 9. Muhammad Lelaki Indonesia Jalan penghidupan yang tentram, merdeka, bahagia dan hipotetis 10. Muhammad Adam Islami Nama utusan tuhan keduapuluhlima, rasul terakhir 11. Muhammad Lanang Islami Nama Nabi keduapuluhlima, Utusan tuhan buncit 12. muhammad Lelaki Arab Berdoa dengan baik 13. Muhammad Junjungan-laki Arab Memuji nama Nabi 14. Muhammad Laki-laki Arab Versi digunakan untuk Muhammad – pendiri agama Islam. 15. Muhammad Adam Indonesia nama nabi ke-25 umat selam, sendiri utusan tuhan yang memberikan kronologi selamat kepada banyak umat. 16. Muhammad Pria Arab Yang terpuji, di rahmati, nama nabi 17. muhammad Laki-laki Arab Sembahyang dengan baik 18. muhammad Laki-suami Merek Rasul yang terpuji 19. Saka Cewek Islami Bersinar, berpelita 20. Saka Pemudi Indonesia Tonggak, Tiang 21. Saka Upik Islami Bersinar, bercahaya 22. saka Adam Sansekerta dahan 23. saka Laki-junjungan Kawi tonggak, kusen Baca Juga Dalam prasasti Kui 840M disebutkan bahwa di Jawa terdapat banyak pedagang asing dari mancanagara untuk berdagang misal Cempa Champa, Kmir Khmer-Kamboja, Reman Mon, Gola Bengali, Haryya Arya dan Keling. Untuk kebutuhan administrasi, terdapat para pejabat lokal yang mengurusi para pedagang asing tersebut, misal Juru China yang mengurusi para pedagang dari China dan Juru Barata yang mengurusi para pedagang dari India. Mereka seperti Konsul yang bertanggung jawab atas kaum pedagang asing. Di dalam catatan sejarah, kita mengenal gelar “Sang Haji Sangaji” merupakan gelar dibawah “Sang Ratu”, seperti contoh Haji Sunda pada Suryawarman 536M dari Taruma, Haji Dharmasetu pada Maharaja Dharanindra 782M dari Medang. Haji Patapan pada Maharaja Samaratunggadewa 824M dari Medang. Sumber History of Java Nusantara Legenda Ajisaka Dalam legenda tanah Jawa, kita mengenal nama tokoh Ajisaka. Ajisaka sangat mungkin, berasal dari kata Haji Saka, bermakna Perwakilan Negara Duta atau Konsul yang bertanggung jawab atas para pedagang asing, yang berasal dari negeri Saka Sakas. Lalu dimanakah Negeri Sakas itu? Di dalam sejarah India, dikenal negara Sakas atau Western Satrap Sumber Western Satrap, Wikipedia. Pada tahun 78M Western Satrap Sakas mengalahkan Wikramaditya dari Dinasti Wikrama India. Kemenangan pada tahun 78M dijadikan sebagai tahun dasar dari penanggalan kalender Saka. Wilayah Western Satrap mencakup Rajastan, Madya Pradesh, Gujarat, dan Maharashtra. Para raja dari Western Satrap biasanya memakai dua bahasa yaitu Sankrit Sansekerta dan Prakit serta dua aksara yaitu Brahmi dan Yunani dalam proses pembuatan prasasti dan mata uang logam kerajaan. Sejak pemerintahan Rudrasimha 160M-197M, pembuatan mata uang logam kerajaan selalu mencantumkan tahun pembuatannya berdasarkan pada Kalender Saka. Keberadaan Sakas dengan Kalender Saka-nya, nampaknya bersesuaian dengan Legenda Jawa, yang menceritakan Ajisaka Haji Saka, sebagai pelopor Penanggalan Saka di pulau Jawa. Dewawarman I, bukan Ajisaka Di dalam Naskah Wangsakerta, kita mengenal seorang pedagang dari tanah India, yang bernama Dewawarman I. Beliau dikenal sebagai pendiri Kerajaan Salakanagara. Ada sejarawan berpendapat, bahwa Dewawarman I adalah indentik dengan Haji Saka Ajisaka. Akan tetapi apabila kita selusuri lebih mendalam, sepertinya keduanya adalah dua orang yang berbeda. Ajisaka Haji Saka, tidak dikenal sebagai pendiri sebuah Kerajaan, melainkan dikenal membawa pengetahuan penanggalan, bagi penduduk Jawa. Sebaliknya Dewawarman I adalah pendiri Kerajaan Salakanagara, dan tidak ada riwayat yang menceritakan, bahwa beliau pelopor Kalender Saka. Dewawarman I di-indentifikasikan berasal dari Dinasti Pallawa Pahlavas, beliau berkebangsaan Indo-Parthian, yang berkemungkinan salah satu leluhurnya adalah Arsaces I King of PARTHIA. Dan jika diselusuri silsilahnya akan terus menyambung kepada Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia binti Cyrus II “The Great” of Persia Zulqarnain. Sumber The PEDIGREE of Arsaces I King of PARTHIA dan Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah Sementara Ajisaka Haji Saka, di-identifikasikan berasal dari Sakas Western Satrap, beliau berkebangsaan Indo-Scythian, dimana susur galurnya besar kemungkinan, menyambung kepada keluarga kerajaan di India Utara King Moga/Maues. Sumber Indo-Scythians dan Maues, Wikipedia Namun ternyata, kedua Leluhur masyarakat Sunda dan Jawa ini, memiliki satu persamaan, yakni Dewawarman I Indo-Parthian dan Ajisaka Indo-Scythian, sesungguhnya merupakan Zuriat Keturunan dari Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim Bani Ishaq, yaitu melalui dua anaknya Nabi Yakub Jacob dan Al Aish Esau. Sumber THE TWO HOUSES OF ISRAEL, Who were the Saxons/Saka/Sacae/Scythians? Sons of Isaac, Komunitas Muslim, dari Bani Israil dan Connection Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim ? WaLlahu a’lamu bishshawab Artikel Lainnya… 01. Misteri Leluhur Bangsa Jawa 02. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta 03. Jejak Nabi Nuh, dalam Gen Leluhur Nusantara Haplogroup O1aM119 ArticlePDF Available AbstractTulisan ini merupakan hasil penelitian secara filologis dan resepsi terhadap teks-teks Cerita Aji Saka CAS yang terdapat di dalam khazanah pernaskahan Sunda lama. Penelitian terhadap CAS ditujukan untuk mendapatkan suntingan teks, hubungan antarteks, dan tanggapan masyarakat terhadap cerita tersebut. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kritik teks objektif dan metode interteks. Metode objektif digunakan untuk merunut silsilah naskah. Metode interteks digunakan untuk membandingkan versi-versi CAS sehingga dapat diketahui dari sumber mana versi-versi itu berasal. Naskah-naskah Sunda yang memuat CAS di dalam penelitian ini ada sebelas naskah. Hasil perbandingan antarteks menunjukkan bahwa Cerita Aji Saka sangat populer dalam tradisi tulis masyarakat Sunda. Di dalam naskah Sajarah Galuh, buku Gandasari, Sekar Aosan, dan roman Mantri Jero tokoh Aji Saka dilegitimasi sebagai tokoh sejarah yang benar-benar ada dan hidup pada abad ke-5 Masehi yang peranannya sangat mempengaruhi perkembangan kejiwaan pembacanya untuk meneladani budi pekerti dari peristiwa yang terjadi pada Cerita Aji Saka. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. 91Volume 7METAHUMANIORAHalaman 91—99Nomor 1 April 2017PERBANDINGAN TEKS CERITA AJI SAKADALAM TRADISI TULIS MASYARAKAT SUNDAMamat RuhimatTauk AmperaRahmat SopianFakultas Ilmu Budaya Universitas PadjadjaranABSTRAKTulisan ini merupakan hasil penelitian secara lologis dan resepsi terhadap teks-teks Cerita Aji Saka CAS yang terdapat di dalam khazanah pernaskahan Sunda lama. Penelitian terhadap CAS ditujukan untuk mendapatkan suntingan teks, hubungan antarteks, dan tanggapan masyarakat terhadap cerita tersebut. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kritik teks objektif dan metode interteks. Metode objektif digunakan untuk merunut silsilah naskah. Metode interteks digunakan untuk membandingkan versi-versi CAS sehingga dapat diketahui dari sumber mana versi-versi itu berasal. Naskah-naskah Sunda yang memuat CAS di dalam penelitian ini ada sebelas naskah. Hasil perbandingan antarteks menunjukkan bahwa Cerita Aji Saka sangat populer dalam tradisi tulis masyarakat Sunda. Di dalam naskah Sajarah Galuh, buku Gandasari, Sekar Aosan, dan roman Mantri Jero tokoh Aji Saka dilegitimasi sebagai tokoh sejarah yang benar-benar ada dan hidup pada abad ke-5 Masehi yang peranannya sangat mempengaruhi perkembangan kejiwaan pembacanya untuk meneladani budi pekerti dari peristiwa yang terjadi pada Cerita Aji Kunci tradisi tulis, resepsi, teksABSTRACTThis paper is the result of a research on philology study and reception of the texts of Cerita Aji Saka CAS in the treasures of Sundanense ancient manuscripts. The research of CAS aims to gain the text editing, intertextual connection, and the society’s perception of the research uses the methods of objective textual criticism and intertextuality. The objective method is used to trace the genealogy of the manuscript. The intertextual method is used to compare multiple versions of CAS to discover the source of every version. There are eleven Sundanese manuscripts containing CAS in the research. The result of intertextual comparison shows that Cerita Aji Saka is very popular in the literary tradition of Sundanese people. In the manuscripts of Sajarah Galuh, the books of Gandasari, Sekar Aosan, and the romance of Mantri Jero, the character of Aji Saka is legitimated as a historical gure that really existed and lived in the 5th century AD whose role has a great inuence on the mental development of the readers to imitate the character and the events occurring in Cerita AJi Saka. Keywords literary tradition, reception, textI. PENDAHULUANNaskah-naskah Sunda lama pada umumnya belum tergarap secara lologis. Sebagian besar masih tersimpan baik di museum-museum, perpustakaan dalam dan luar negeri, maupun koleksi lembaga dan perorangan yang tentu saja sangat menarik untuk diteliti. Penggarapan naskah yang serius sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian dokumen kebudayaan dan menggali pesan-pesan yang terkandung di dalamnya untuk dimanfaatkan dalam kehidupan di masa sekarang dan yang akan datang. 92 METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99Mamat Ruhimat, Tauk Ampera, Rahmat SopianPelestarian naskah lama tidak hanya terbatas sampai tingkat pengoleksian dan pengkatalogan. Pengkajian secara lologis yang disertai suntingan teks akan lebih bermanfaat bagi pelestarian dan pemanfaatan kembali teks-teks yang sudah dilupakan oleh masyarakat pemiliknya. CAS merupakan salah satu khazanah Sastra Sunda yang berkembang terus sampai sekarang. Cerita ini tidak saja tersurat di dalam naskah-naskah lama tetapi juga masih menjadi bahan bacaan dalam buku pelajaran di sekolah Insani, 1991. Hal ini membuktikan bahwa tanggapan dan penerimaan masyarakat Sunda terhadap CAS masih sangat besar. Sebagian besar orang Sunda masih percaya bahwa aksara Sunda Cacarakan dibuat oleh Aji Saka Raja Medang dilihat dari penyajian cerita, CAS ternyata memiliki variasi sesuai dengan persepsi dan penerimaan masyarakat. Tidaklah mengherankan kalau CAS terdiri dari versi-versi yang berlainan dan bermacam-macam. Hal ini akan sangat menarik untuk diteliti secara pragmatik untuk mengungkapkan sejauhmana masyarakat Sunda mengenal dan menerima CAS sebagai tokoh yang dimitoskan sebagai pencipta aksara Cacarakan. Penelitian terhadap CAS difokuskan pada tekstologi, tanggapan dan penerimaan masyarakat Sunda terhadap CAS yang melahirkan berbagai macam versi dan bentuk cerita. Bagaimana mengungkapkan sejarah teks, tradisi dan transmisi teks, sehingga sumber teks bisa diketahui? Bagaimana tanggapan dan penerimaan masyarakat Sunda terhadap CAS dari dulu sampai sekarang?II. METODE PENELITIANMetode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif komparatif analisis. Metode deskriptif komparatif analisis digunakan untuk memaparkan atau memberikan gambaran tentang keadaan naskah yang diteliti berdasarkan hasil wawancara dengan penulis atau pemilik naskah, apa yang tercantum dalam katalog, dan informasi dari dalam naskah itu sendiri. Selanjutnya, hasil deskripsi tersebut dibandingkan dan diteliti untuk diketahui sebab-musababnya, duduk perkaranya, atau prosesnya Badudu dalam Ma’mun, 1998a 50. Langkah selanjutnya adalah melakukan pengkajian terhadap penelitian yang dilakukan untuk mencari naskah CAS bagi sumber data penelitian ini melalui studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka dilakukan untuk mencari informasi naskah-naskah Sunda lama yang memuat CAS baik dalam katalog maupun hasil penelitian. Berdasarkan informasi dari hasil studi pustaka selanjutnya dilakukan studi lapangan untuk mencari keberadaan naskah-naskah CAS tersebut. Dari sebelas 11 naskah CAS yang diinventarisasi, baru dua 2 naskah yang ditemukan. Kedua naskah tersebut tersimpan pada koleksi Perpustakaan Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran di Bandung. Buku bacaan yang memuat CAS ada empat 4 judul yaitu 1 Mantri Jero Sastrahadiprawira, 1928, 1983, 2 Gandasari Sastraatmadja, 1951, 3 Sekar Aosan Insani, Cetakan I 1991 dan 4 Sekar Aosan Insani, Cetakan II 1991. Metode kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kritik teks objektif dan metode interteks. Metode objektif digunakan untuk merunut silsilah naskah. Metode objektif yang sampai kepada perunutan silsilah naskah disebut juga metode stema Baried, 1994. Metode interteks digunakan untuk membandingkan versi-versi CAS sehingga dapat diketahui dari sumber mana versi-versi itu berasal. Perbandingan Teks Cerita Aji Saka dalam Tradisi Tulis Masyarakat SundaMETAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99 93 III. HASIL DAN BAHASAN1. Inventarisasi NaskahBerdasarkan hasil penelusuran dalam katalog, naskah-naskah Sunda lama yang memuat CAS berjumlah 11 buah, yaitu 1 Sajarah Galuh koleksi Perpustakaan Nasional RI,2 Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa koleksi Perpustakaan Nasioanl RI,3 Kitab Sajarah Sumedang YPS 32 koleksi Museum Pangeran Geusan Ulun Sumedang,4 Kitab Waruga Jagat NUB 1635/NIB 03 koleksi Museum Pangeran Geusan Ulun Sumedang,5 Aji Saka koleksi Universiteit Bibliotheek Leiden,6 Cerita Bumi Sagaluh koleksi Universiteit Bibliotheek Leiden,7 Wawacan Sajarah Galuh koleksi Universiteit Bibliotheek Leiden,8 Medang Kamulan, koleksi Andi Kampung Cisondari Desa/Kec. Pasirjambu, Bandung Ekadjati Ed., 1988. 9 Berdasarkan hasil temuan naskah dari masyarakat diperoleh dua buah naskah yang memuat CAS, yaitu 10 Sajarah Galuh SS 2162 11 Babad Aji Saka SSUP006A koleksi Perpustakaan Jurusan Sastra Daerah Universitas itu CAS juga ditemukan dalam empat buku yang telah diterbitkan 1 Mantri Jero Sastrahadiprawira, cetakan pertama 1928, cetakan ke-3 19832 Gandasari IV Sastraatmadja, 19513 Sekar Aosan Insani, 1957 4 Sekar Aosan Insani, 1991.Sampai saat ini, naskah yang telah ditemukan dalam kesempatan ini baru dua buah, yaitu Sajarah Galuh SG dan Babad Aji Saka, di samping keempat buku cetakan yang tercantum dalam daftar di Perbandingan TeksNaskah yang dibandingan pada perbandingan teks baru satu buah yaitu Sajarah Galuh SG karena baru naskah ini yang berhasil dibuat transliterasinya. CAS dalam SG kemudian dibandingkan dengan Mantri Jero MJ dan Sekar Aosan SA. Kedua buku ini dianggap mewakili CAS untuk perbandingan persepsi dan resepsi pengarang terhadap Jero merupakan roman sejarah kehidupan bangsawan Sunda, khususnya kabupaten Nagara Tengah di Priangan Timur setelah ditaklukan oleh Mataram. Roman ini ditulis oleh R. Memed Sastrahadiprawira, diterbitkan pertama kali oleh Bale Poestaka pada tahun 1928 dan diterbitkan ulang oleh Rahmat Cijulang pada tahun 1983. CAS termasuk kedalam bagian cerita ketika Yogaswara sedang diajari menulis aksara Jawa hana caraka oleh ayahnya. Sedangkan Sekar Aosan merupakan buku bacaan anak Sekolah Dasar untuk menunjang mata pelajaran Bahasa Sunda. Buku yang disusun oleh Insani ini pertama kali diterbitkan tahun 1957 oleh Tarate dan diterbitkan ulang dengan revisi pada tahun 1991 oleh Pamugat. CAS termuat secara lengkap pada edisi tahun 1957 dan merupakan kutipan dari Gandasari IV Sastraatmadja, 1951. Sedangkan pada edisi 1991 CAS bagian pertama dihilangkan dengan alasan undak-usuk tingkat tutur’ bahasa Sundanya kacau dan membingungkan ringkasan cerita, berikut ini perbandingan alur CAS yang ada pada SG, MJ dan SA. 94 METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99Mamat Ruhimat, Tauk Ampera, Rahmat SopianNo. Sajarah Galuh SGSS 2162Mantri Jero MJ1928Sekar Aosan SA 19571 Silsilah Ratu Galuh dari Nabi Adam Galuh mempunyai 4 pelayan Ki Bondan, Ki Bonde Jaya, Ki Bonde Sura dan Ki Bonde Bonde Sura dan Ki Bonde Jali menjadi pandai besi. Ki Bondan diangkat menjadi raja. Ratu Galuh bertapa bersama Ki Bonde JayaKeadaan pulau Jawa seribu lima ratus tahun yang Galuh bergelar Ajar Gunung Padang, Ki Bonde Jaya bergelar Ki Kuwu Bungur atau Ki KuresDi Jawa sebelah barat ada sebuah Kures berputra Bagawan Dursila. Bagawan Dursila berputra Kaji SakaSang raja mempunyai putra bernama Pangeran TritrustaKaji Saka pergi ke Mekah berguru agama Islam kepada Nabi Muhammad SAW dan diangkat menjadi Tritrusta disuruh belajar ke negeri Atas AnginKaji Saka tergoda oleh setan hingga Tri Trusta belajar Agama Buda Saka sehingga namanya diganti menjadi Aji SakaKaji Saka disuruh kembali ke Nusa Jawa sambil menyebarkan tulisan disertai dua orang Saka kembali ke pulau Jawa membawa serta pengikutnya dari Atas Angin .Kaji Saka pulang tetapi tulisan tertinggal. Kedua pengawal disuruh kembali pergi untuk membangun negeri baru Aji Saka menitipkan pusaka kepada Ki Muhammad SAW menyuruh dua sahabat mengantarkan tulisan kepada Kaji SakaAji Saka membuat negeri baru yang dinamai Medang KamulanPengawal dan sahabat bertemu, saling mempertahankan pendapat hingga berkelahi dan matiAji saka menyuruh Ki Dora mengambil pusaka titipan pada Ki Sembada Perbandingan Teks Cerita Aji Saka dalam Tradisi Tulis Masyarakat SundaMETAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99 95 Kaji Saka mencari pengawalnya dan ditemukan telah mati bersama sahabat Sembada tidak mau memberikan pusaka itu karena ingat akan wasiat Aji Saka untuk tidak memberikannya kepada orang lainKaji Saka membaca tulisan yang berbunyi hana caraka data sawala pada jayanya maga batanga yang kemudian disebut aksara Jawa. Hana caraka timur, data sawala selatan, pada jayanya barat, maga batanga panakawan berkelahi hingga terluka Saka pulang ke Nusa Jawa, tinggal di rumah seorang janda di Medang Saka menyusul ke tempat Ki Sembada dan melihat kedua panakawannya luka Medang Kamulyan, Jawata Cengkar suka makan kedua panakawan menjelaskan ihwal masing-masing mereka pun matiRaja Medang Kamulan bernama Dewata Cengkar suka memakan manusiaKaji Saka mendirikan sekolah di kampungnya dan mengajarkan aksara JawaAji Saka membuat peringatan atas kejadian tersebut dengan menuliskan aksara pada sebatang kayuKetika Kaji Saka sedang buang air kecil ia melihat paha janda tersingkap. Kamanya keluar dan dimakan ayam jantan hingga bertelur. Telur disimpan di lumbung sebagai tersebut berbunyi hana caraka data sawala pada jayanya maga batanga atinya ada dua utusan berkelahi sama kuatnya hingga keduanya menjadi Saka bertemu patih yang sedang mencari manusia untuk makanan Jawata bertemu seorang anak yang berumur 10 tahun yang bernama Aji SakaKaji Saka bersedia jadi santapan Jawata Saka bersedia menjadi santapan Dewata Cengkar asal kalau dapat membunuh Dewata Cengkar diberi tanah seluas ikat kepalaKaji Saka tidak bisa dimakan karena Saka tidak bisa dimakan karena kebal. 96 METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99Mamat Ruhimat, Tauk Ampera, Rahmat SopianJawata Cengkar disuruh mengulur destar Kaji Saka dulu supaya bisa memangsanya. Aji Saka masuk ke dalam kerongkongan Dewata CengkarDestar tidak habis diulur hingga Jawata Cengkar jatuh ke laut dan mati kemudian menjelma menjadi buaya putih yang memusuhi Kaji SakaTubuh Aji Saka membesar sehingga Dewata Cengkar mati karena kerongkongannya pecah. Kaji Saka menjadi raja di Medang Kamulyan. Mendirikan sekolah hingga banyak raja lain yang belajar. Aji Saka mengulur ikat kepala hingga seluruh pulau Jawa tertutupi. Aji Saka menjadi yang disimpan di lumbung menentas menjadi naga. Naga mencari ayahnya hingga bertemu Kaji Saka ingat akan dua orang panakawan yang ditinggal di Pulo Majeti yaitu Dora dan SembadaKaji Saka mau mengakui anak asal sang naga bisa mengalahkan buaya putih di Segara Saka menyuruh Ki Duduga dan Prayoga mengundang Ki Dora dan Sembada serta membawa pusaka yang dititipkan pada merekaNaga dapat mengalahkan buaya putih dengan bantuan Unajaya, pengawal Nyi Rara KidulKi Dora mengajak Sembada ke Medang Kamulan tetapi ki Sembada Saka menyuruh Ki Dora untuk memaksa Ki Sembada agar datang ke Medang Sembada tidak mau pergi hinga berkelahi dengan Ki Dora dan keduanya pun Saka menyuruh Duduga dan Prayoga menyusul ke Pulo MajetiDuduga dan Prayoga melaporkan Dora dan Sembada telah mati. Aji Saka pergi ke Pulo Majeti Perbandingan Teks Cerita Aji Saka dalam Tradisi Tulis Masyarakat SundaMETAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99 97 Aji Saka menyesal telah membuat perintah yang menyebabkan mereka meninggalsebagai peringatan atas kesetiaan mereka Aji Saka membuat aksara Sunda yang berbunyi hana caraka ada utusan data sawala saling berebut kebenaran pada jayanya sama kuatnya maga batanga hingga menjadi mayat.3. ResepsiPada naskah Sajarah Galuh terlihat bahwa tokoh Aji Saka dianggap benar-benar ada dan merupakan penyebar aksara yang berasal dari dua puluh huruf pemberian Nabi Muhammad SAW. Ketika Aji Saka telah selesai berguru agama Islam kepada Nabi Muhammad SAW ia berganti nama menjadi Haji Saka lalu disuruh kembali ke Tanah Jawa dengan dibekali surat berisi 20 aksara yang diambil dari mega. Angka 20 mengingatkan kita kepada jumlah sifat wajib Allah SWT yang jumlahnya 20 atau disebut Sifat Dua Puluh. Selain itu, Nabi Muhammad juga menghadiahkan Doa Qunut kepada Aji Saka sebagai ganjaran atas “kenakalannya”. Aji Saka telah dilegitimasi sebagai tokoh Islam dan merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW. Hal ini menandakan bahwa CAS telah diterima sebagai bagian dari silsilah keturunan raja-raja dan bupati Galuh Ciamis yang telah menganut agama Islam. Pendekatan Aji Saka sebagai shahabat Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu bentuk legitimasi bahwa Aji Saka dan aksara Jawa yang dibawanya benar-benar Islami. Doa Qunut harus dibaca sir pelan’ pada kalimat fa innaka taqdi menunjukkan bahwa pengarang Sajarah Galuh ingin memberikan legitimasi peranan Aji Saka sangat besar dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Dengan melegitimasi Aji Saka sebagai tokoh penyebar Islam di Kabupaten Galuh Ciamis maka akan timbul perasaan bangga pada orang Galuh bahwa dirinya benar-benar penganut agama Islam yang paling dahulu awwalul muslimin sebagaimana pengakuan Nabi Ibrahim AS dalam Alquran.25 Lajeng baé namana ku Kangjeng Rasul, éta téh tuluy disalin, pun Haji Saka nu mashur, lajeng dipaparin isim, surat dua puluh yaktos.26 Tina méga waktuna aksara nyabut, sebab kersa Kangjeng Nabi, aksara nu dua puluh, /70/ keur di Nusa Jawa yakti, Jeng Nabi deui nyarios. 98 METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99Mamat Ruhimat, Tauk Ampera, Rahmat Sopian27 Ieu kula ieu nyieun Dunga Kunut, lebah fa innaka taqdhi, tangtuna ku euyna tangtu, éta dituluykeun tadi, engké dibacana tangtos.28 Meumeueusan ulah kakuping ku batur, sebab éta waktu tadi, nulis dituluykeun batur, ku sahabat geus kaharti, dawuhan Nabi nu pula, setelah Aji Saka mendapat perintah untuk menyebarkan aksara Jawa yang diberikan oleh Rasulullah, maka susunan aksara Jawa hana caraka data sawala pada jayanya maga batanga di dalam Sajarah Galuh dipakai untuk menyebut empat arah mata angin yang utama.01 Ungelna lebeting surat,ieu tulis aksara Jawa sayakti,Haji Saka kudu muruk,engké sadatang-datang,tangtu pisan Haji Saka jadi ratu,berekah ieu aksara,sinareng sapa’at Nabi.02 Lajeng dibaca ungelna,kieu pokna hana caraka yakti,sasaka wétan disebut,sareng data sawala,enya éta perenah sasaka kidul,sinareng pada jayanya,sasaka kulon sayakti.03 Jeung éta maga batanga,nya di kalér sasakana geus yakti,sang Haji Saka ngamaphum,éh ieu pandakawan,menta surat parebut ngajadi / gelut, /73/sebab kieu aksarana,maga batanga téh Mantri Jero terlihat bahwa pengarang telah menggunakan persepsi sejarah yang agak logis yaitu dengan memperkirakan keadaan pulau Jawa tahun yang lalu. Jika pengarang menghitung jangka waktu tersebut dari tahun 1900an, kemungkinan bahwa Aji Saka hidup sekitar tahun 400 M. dengan demikian Aji Saka dianggap hidup sezaman dengan kerajaan Tarumanagara. Sebagaimana telah diketahui bahwa aksara Pallawa mulai dipergunakan untuk menulis prasasti pada masa kerajaan ini. Kepergian Aji Saka untuk berguru agama Buda ke negeri Atas Angin pun cukup logis karena hubungan kerajaan Tarumanagara dengan India dan China sangat baik. Dengan demikian, pengarang Mantri Jero berusaha menempatkan Aji Saka sebagai pelaku sejarah dan bukan hanya sekedar mitos. Penceritaan Aji Saka oleh Memed di dalam dialog antara Raden Wirautama dengan Perbandingan Teks Cerita Aji Saka dalam Tradisi Tulis Masyarakat SundaMETAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99 99 Yogaswara dimaksudkan untuk memberikan pendidikan moral bagi pemuda yang mau belajar menjadi pegawai pemerintah. Secara eksplisit Memed menanamkan pengajaran budi pekerti bagi para pemuda calon ambtenaar pegawai pemerintah’ pada zamannya untuk selalu setia kepada atasan. Apapun perintah atasan harus selalu dipatuhi oleh bawahannya. Ia tidak boleh memercayai orang lain yang menjadi suruhan atasan apabila tidak ada saksi yang menguatkan perintah atasan tersebut. Jika perlu, lebih baik mati daripada harus menghianati perintah atasan. Pada Sekar Aosan, pengarang berusaha menyajikan CAS sebagai bahan pengajaran moral dan pekerti. Tokoh Aji Saka sendiri terasa kurang menonjol jika dibandingkan dengan tokoh Ki Dora dan Ki Sembada. Bahkan pada Sekar Aosan cetakan kedua 1991 bagian pertama dihilangkan. Pengarang bermaksud menanamkan ajaran moral kapengkuhan kepatuhan’ terhadap perintah atasan. Demikian pula sikap seorang pemimpin tidak boleh lanca-linci ingkar janji’ sehingga menyebabkan bawahan binasa. Seorang pemimpin tidak boleh melupakan janji atau peraturan yang telah ia buat bersama orang lain atau bawahan sekalipun. IV. PENUTUP Cerita Aji Saka CAS ternyata sangat digemari oleh masyarakat Sunda baik sebagai tokoh sejarah tradisional, maupun tokoh yang dimitoskan sebagai pencipta aksara Cacarakan. CAS tertulis di dalam naskah-naskah Sunda lama maupun di dalam buku-buku cetakan yang masih dipergunakan sebagai buku ajar di sekolah sampai akhir abad ke-20. CAS juga tertulis dengan berbagai variasi yang melahirkan versi-versi. Hal ini menunjukkan bahwa CAS berkembang sesuai dengan persepsi dan penerimaan masyarakat SUMBER Baried, Siti Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas BPPF Seksi Filologi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Edi S. 1986. Ceritera Dipati Ukur Karya Sastra Sejarah Sunda. Jakarta Pustaka Edi S. Ed.. 1988. Naskah Sunda Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung Toyota Foundation dan Universitas Edi S. dkk. Penyunting. 1999. Direktori Edisi Naskah Nusantara. Jakarta Masyarakat Pernaskahan Nusantara – Yayasan Obor Edi S. dan Undang Ahmad Darsa. 1999. Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5a Jawa Barat Koleksi Lima Lembaga. Jakarta Masyarakat Pernaskahan Nusantara – Yayasan Obor Achadiati. 1980. Hikayat Sri Rama Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat dan Struktur. Jakarta UI 1957. Sekar Aosan. Bandung Tarate 1991. Sekar Aosan. Bandung Partini Sardjono. 1986. Kakawin Gajah Mada Sebuah Karya Sastra Kakawin Abad ke-20 Suntingan Naskah serta Telaah Struktur, Tokoh dan Hubungan Antarteks. Bandung 1994. Prinsip-prinsip Filologi di Indonesia Terjemahan oleh Kentjanawati Gunawan. Jakarta R. Rg. 1951. Gandasari IV. Groningen-Djakarta R. Memed. 1983. Mantri Jero. Bandung Rahmat Sulastin. 1981. Relevansi Studi Filologi. Yogyakarta Hikayat Hang Tuah Analisa Struktur dan Fungsi. Yogyakarta Gadjah Mada University 1972. Babad Buleleng A Balinese Dynastic Genealogy. The Hague Martinus Nijhoff-KITLV. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Dipati Ukur Karya Sastra Sejarah SundaEdi S EkadjatiEkadjati, Edi S. 1986. Ceritera Dipati Ukur Karya Sastra Sejarah Sunda. Jakarta Pustaka 1999. Direktori Edisi Naskah NusantaraEdi S Dkk EkadjatiEkadjati, Edi S. dkk. Penyunting. 1999. Direktori Edisi Naskah Nusantara. Jakarta Masyarakat Pernaskahan Nusantara -Yayasan Obor Aosan. Bandung Tarate 1991. Sekar AosanInsaniInsani. 1957. Sekar Aosan. Bandung Tarate 1991. Sekar Aosan. Bandung Buleleng A Balinese Dynastic Genealogy. The Hague Martinus Nijhoff-KITLVP J WorsleyWorsley, 1972. Babad Buleleng A Balinese Dynastic Genealogy. The Hague Martinus Nijhoff-KITLV.