aji saka dan nabi muhammad

Saatbayi, Nabi Muhammad saw. diasuh oleh Halimah Sa‘diyah dari Bani Saad, Kabilah Hawazin. Di perkampungan bani Saad inilah Nabi diasuh dan dibesarkan sampai usia 5 tahun. Saat Nabi Muhammad saw. memasuki usia 6 tahun, ibunya wafat. Ia pun diasuh oleh kakeknya, Abdul Muthalib. Kakeknya adalah seorang pemuka Quraisy yang sangat disegani. Saya Aji Saka dari Medang Kawit ingin bertemu dengan sang Prabu,” jawab Aji Saka. “Hai, Anak Muda! Apakah kamu tidak takut dimangsa sang Prabu?” sahut seorang pengawal yang lain. “Ketahuilah, Tuan-Tuan! Tujuan saya kemari memang untuk menyerahkan diri saya kepada sang Prabu untuk dimangsa,” jawab Aji Saka. Para pengawal istana MuhammadSholikhin dalam buku Misteri Bulan Suro Perspektif Islam Jawa menjelaskan, penganut Kejawen percaya bulan tersebut merupakan bulan kedatangan Aji Saka ke Pulau Jawa. Oleh karena itu sebagian masyarakat yang mempercayai kemistisan tersebut melakukan berbagai ritual seperti memandikan benda pusaka seperti keris dan lain-lain, Assalamu‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Segala puji hanya bagi Allah, yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur'an) dan agama yang benar (Islam) untuk dimenangkan di atas semua agama walaupun orang musyrik membencinya. Shalawat serta salam senantiasa kita curahkan kepada baginda Rasulullah shalallahu ‘alaihi Sebutkan4 jenis format partisi pada linux - 20103059 Anuju sawijineng ndina, sang prabu dewata cengkar duka banget soale ora ana wong maneh sing bisa banjur saguh dicaosake sang nata da TahunJawa atau Tahun Saka mulai tahun 78M yang diriwayatkan bertepatan dengan tahun pertama raja Saliwahana atau Aji Saka naik tahta di Hindustan. Tahun itu, 78M, ditetapkan sebagai tahun 1 Saka. Tahun Masehi mulai tahun dimana bertepatan dengan kelahiran Nabi Isa AS atau bagi agama Kristen sebagai Yesus Kristus. MengkomunikasikanMenyajikan secara lisan atau tulisan tembang Pangkur yang ditulis Memberi tanggapan isi dengan bahasa sendiri Serat Wedhatama pupuh Pangkur. 1.2 Menerima, mensyukuri, Teks Crita Cekak: Mengamati Observasi; 6 JP Buku teks menghayati dan Unsur-unsur Membaca contoh teks crita cekak. Lebihterkejut lagi Tualen Puss mendapati klaim pada kalender itu bahwa Aji Saka adalah orang Jawa asli dan kalender yang diperkenalkan Aji Saka yang dimulai tanggal 21 Juni 77 M dimulai dari angka nol (das), (Asy-Syaro) yang keramat, yaitu tanggal terbunuhnya Sayyidina Husein putera Ali bin Abi Thalib, cucu Nabi Muhammad Saw di Karbala. Secarahistoris, hijrah adalah peristiwa nabi besar Muhammad s.a.w. dan para sahabatnya darikota Makkah menuju kota Yathrib, yang kemudian disebut al – Madinah al – Munawwarah. Menurut dongeng dan mitos, Aji Saka diyakini sebagai raja keturunan dewa yang datang dari India untuk menetap di tanah Jawa. PDF| Tulisan ini merupakan hasil penelitian secara filologis dan resepsi terhadap teks-teks Cerita Aji Saka (CAS) yang terdapat di dalam khazanah | . Yogyakarta - Aksara Jawa menjadi salah satu aspek pembelajaran di sekolah-sekolah dasar wilayah Jawa. Umumnya, aksara Jawa diajarkan pada mata pelajaran bahasa Jawa. Aksara Jawa merupakan sebuah tulisan dari bahasa Jawa yang juga dikenal dengan nama Hanacaraka atau Carakan. Aksara ini sudah ada sejak abad ke-17 Masehi, tepatnya saat Kerajaan Mataram Islam. Meski sudah dikenalkan sejak tingkat dasar, ternyata tak banyak yang mengetahui tentang sejarah dan asal usul kemunculan aksara Jawa, baik dalam mitos dan cerita-cerita legenda maupun dalam catatan fakta sejarah yang sebenarnya. Dalam konteks cerita rakyat atau legenda, terdapat cerita mengenai asal-usul aksara Jawa. Taman Balekambang Solo, Tempat Bersantai Keluarga Mangkunegaran Solo yang Kini Buka untuk Umum Tips Sederhana agar Alpukat Matang Merata Asal Mula Penamaan Joglo, Rumah Adat dari Yogyakarta dan Jawa Tengah Asal mula terbentuknya aksara Jawa tidak terlepas dari dongeng seorang pengembara bernama Aji Saka. Kisah awal mula aksara Jawa dimulai dari seorang pengembara bernama Aji Saka yang diikuti oleh kedua abdinya, Dora dan Sembada. Aji Saka berasal dari negeri antah-berantah bernama Bumi Majethi. Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa Aji Saka adalah keturunan suku Shaka dari India. Aji Saka ingin pergi mengembara meninggalkan Majethi. Ia pun menunjuk Dora untuk menemaninya, sementara Sembada ditugaskan tinggal di Majethi dan menjaga pusaka andalannya yang disebutkan merupakan sebuah keris. Sebelum mengembara, Aji Saka berpesan kepada Sembada untuk tidak menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Aji Saka sendiri. Sembada pun mematuhi pesan tersebut. Saksikan Video Pilihan IniMengenang Pahlawan Musik Didi Kempot, The Lord of AmbyarKe Tanah JawaPengembaraan Aji Saka membawanya sampai ke Tanah Jawa. Pengembaraan ini mempertemukan Aji Saka dengan seorang raja yang dzalim, yakni Dewata Cengkar. Aji Saka dan sang raja pun terlibat pertikaian. Beruntungnya, dengan menggunakan ikat kepala yang bisa memanjang dan melebar, Aji Saka mampu mengalahkan sang raja. Ia melempar sang raja ke laut yang kemudian berubah menjadi buaya putih dan akhirnya meninggal. Setelah Dewata Cengkar kalah, Aji Saka kemudian didaulat menjadi seorang raja di Medang Kamulan. Setelah penobatan, Aji Saka mengutus punggawanya, Dora, untuk mengambil pusaka andalannya yang dijaga oleh Sembada. Maka, pergilah Dora ke Majethi menemui Sembada. Ketika Dora meminta pusaka tersebut kepada Sembada, Sembada teringat akan pesan Aji Saka bahwa pusaka tersebut tidak boleh diserahkan kepada siapapun kecuali kepada Aji Saka sendiri. Sembada pun menolak menyerahkannya kepada Dora. Setelah saling berdebat, mereka terlibat pertarungan sengit hingga sama-sama tewas karena keduanya memiliki kesaktian yang sama tingginya. Mendengar kabar tersebut, Aji Saka sangat menyesali kesalahannya. Untuk mengenang kedua punggawa setianya tersebut, ia lantas membuat sajak berbentuk sebait aksara yang saat ini banyak dikenal masyarakat. Aksara Jawa tersebut adalah Ha - Na - Ca - Ra - Ka ada utusan Da - Ta - Sa - Wa - La saling berselisih pendapat Pa - Dha - Ja - Ya- Nya sama-sama sakti Ma - Ga - Ba - Tha - Nga sama-sama menjadi mayat Mantra Jawa KunoSementara itu, jika aksaranya dibalik maka akan berubah menjadi mantra Jawa Kuno yang berfungsi untuk menangkal roh jahat. Mantra iru disebut "Caraka Walik" Mantra ini dipercaya menjadi ilmu penolak yang sangat ampuh karena mampu menolak segala malapetaka. Mukai dari menolak tuju, teluh, teranjana, leak, desti, pepasangan, sesawangan, hingga rerajahan. Bacaan tersebut juga ada di bait terakhir mantra untuk memanggil jailangkung yang berfungsi untuk menolak bencana atau malapetaka yang tidak diinginkan. Berikut bunyi dan penjelasan mantra tersebut Nga - Ta - Ba - Ga - Ma tidak ada kematian Nya - Ya - Ja - Da - Pa tidak ada kesakitan La - Wa - Sa - Ta - Da tidak ada peperangan Ka - Ra - Ca - Na - Ha tidak ada utusan Resla Aknaita Chak* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan. Legenda Prabu Ajisaka dari Kerajaan Medang Kamulan dan Asal Mula Terciptanya Huruf Jawa Kesenian tradisional Jombang Manusia berilmu dan beriman selalu berusaha mengamalkan kepandaiannya untuk membantu masyarakat. Bersama blog The Jombang Taste ini Anda penulis ajak mengikuti cerita legenda asal-usul penciptaan huruf Jawa. Hampir dua ribu tahun yang lalu di Pulau Jawa terdapat sebuah kerajaan bernama Kerajaan Medang Kamulan. Kerajaan itu diperintah oleh Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang amat lalim. Kebiasaan raja yang sangat mengerikan ialah Prabu Dewatacengkar suka memakan daging manusia. Setiap hari, patih Kerajaan Medang Kamulan harus menyediakan seorang manusia untuk menjadi santapan Sang Prabu. Kadang sang patih menemukan manusia muda, kadang juga manusia tua untuk dijadikan makanan Prabu Dewatacengkar. Rakyat Kerajaan Medang Kamulan sangat menderita dalam hidup mereka. Kehidupan mereka memang masih terbelakang. Mereka belum mengenal ilmu pengetahuan. Bahkan mereka belum mengenal huruf. Kisah Legenda Prabu Ajisaka Tersebutlah seorang pengembara dari negeri seberang bernama Ajisaka. Ia datang ke Pulau Jawa bermaksud menyebarkan pengetahuan. Aji Saka terdorong mengamalkan ilmu yang dimiliki untuk membantu masyarakat. Berita mengenai kekejaman Prabu Dewatacengkar telah sampai pula ke negeri seberang. Karena itu Ajisaka bermaksud pula untuk menolong rakyat Medang Kamulan dari kesewenang-wenangan rajanya. Cerita rakyat dari Jawa Tengah menyebutkan bahwa Ajisaka turun gunung diikuti oleh dua orang pengiringnya, yaitu Dora dan Sembada. Kedua pengiringnya termasuk orang-orang baik budi dan setia kepada junjungannya. Ajisaka akan pergi ke Kerajaan Medang Kamulan tanpa membawa senjata. Ia meminta Sembada tinggal di daerah Pegunungan Kendeng dan menjaga keris pusakanya. Sedangkan Dora diperintahkan untuk mengikutinya. “Kelak aku sendiri yang akan mengambil keris pusaka ini. Jangan sekali-kali kamu berikan kepada orang lain,” pesan Ajisaka kepada Sembada. Sembada berjanji untuk menjunjung tinggi perintah itu. Setelah sampai di Kerajaan Medang Kamulan, Ajisaka ingin segera menghadap Prabu Dewatacengkar. Patih Medang Kamulan mencegahnya. Sang patih mengira Ajisaka tidak tahu kebiasaan buruk Prabu Dewatacengkar yang suka memakan daging manuai. Ia merasa kasihan bahwa pemuda setampan itu akan mati menjadi santapan rajanya. Akan tetapi Ajisaka berkeras hati untuk menghadap. Katanya. “Paman Patih tidak usah khawatir. Mudah-mudahan Tuhan Yang Maha Agung melindungi kita semua. Lagi pula, bukankah sampai sesiang ini Paman belum menyajikan seseorang kepada baginda? Paman akan dihukum bila tidak mampu memberikan makan manusia kepada sang Prabu.” Akhirnya sang patih menuruti permintaan Ajisaka. Ajisaka dibawa patih menghadap Prabu Dewatacengkar. Melihat seorang pemuda yang berbadan kekar, Sang Prabu sangat bergembira. Segera Sang Prabu turun dari singgasananya dan mendekati Ajisaka. Prabu Dewatacengkar memandang tubuh Ajisaka tanpa berkedip. Tubuhnya bersih dan usianya masih muda. Tentu daging pemuda ini rasanya nikmat, gumam Prabu Dewatacengkar dalam hati. Kisah legenda Prabu Dewatacengkar berlangsung lebih menarik. Ketika Prabu Dewatacengkar akan mengangkat tubuhnya, Aji Saka berkata. “Sebelum Baginda menyantap hamba perkenankan hamba mengajukan sebuah permintaan.” “Katakan apa yang kamu minta,” sahut Sang Prabu dengan tidak sabar. Kemudian sambil menoleh ke arah patih. Sang Prabu berkata, “Kamu akan mendapat hadiah, Paman Patih. Sudah lama aku tidak menyantap manusia semuda ini. Akhir-akhir ini hanya orang-orang tua yang kamu sajikan. Dagingnya sudah tidak enak lagi.“ “Hamba mohon diberi sejengkal tanah,” kata Ajisaka membuyarkan ucapan Prabu Dewatacengkar barusan. “Untuk apa?” tanya Sang Prabu. “Bukankah kamu akan segera mati?” “Sepeninggal hamba, tanah itu dapat ditempati oleh kerabat hamba. Dan lagi, tanah yang hamba minta tidak luas, “ ujar Ajisaka. “Apakah seluas alun-alun? Atau seluas desa?” tanya Sang Prabu dengan nada geram. “Hanya seluas ikat kepala hamba,” jawab Ajisaka singkat. “Ha-ha-ha-ha-ha-ha,” Prabu Dewatacengkar tertawa tergelak-gelak mendengar perminataan Ajisaka. Konon jika Prabu Dewatacengkar tertawa maka suaranya menggelegar, seperti suara guruh. “Seribu kali luas ikat kepalamu pun akan kuberi,” sambungnya. Ajisaka mulai mengurai ikat kepalanya. Ia memegang salah satu ujungnya. Ujung yang lain dipegang oleh Prabu Dewatacengkar. Sang Prabu mundur selangkah untuk membentangkan ikat kepala. Terjadilah suatu keajaiban. Ikat kepala Ajisaka ternyata dapat membentang dan membentang, makin lama makin luas sehingga alun-alun Kerajaan Mendang Kamulan tertutup oleh ikat kepala itu. Cerita rakyat dari Jawa Tengah terus berlanjut mempertemukan Prabu Dewatacengkar dan Ajisaka. Ketika Prabu Dewatacengkar sudah mundur sampai di tepi pantai selatan, Ajisaka mengibaskan ikat kepalanya. Maka terceburlah Sang Prabu ke laut selatan dan menjelma menjadi seekor buaya putih. Rakyat Kerajaan Medang Kamulan sangat bersukacita atas meninggalnya Prabu Dewatacengkar. Mereka telah bebas dari keangkaramurkaan sang raja yang kejam dan suka makan daging manusia. Maka rakyat Kerajaan Medang Kamulan segera berunding dan mengangkat Ajisaka menjadi raja Medang Kamulan serta bergelar Prabu Ajisaka. Prabu Ajisaka memerintah dengan adil dan bijaksana. Sang Prabu juga berusaha agar rakyatnya menjadi pandai. Rakyat Kerajaan Medang Kamulan diajari bercocok tanam, membuat saluran air, membangun gedung, memajukan perdagangan, mengembangkan pelayaran, dan berbagai ilmu pengetahuan lain. Lebih daripada itu, di Mendang Kamulan tidak ada lagi kesewenang-wenangan. Rakyat hidup aman dan tenteram di bawah pimpinan Prabu Ajisaka. Cerita Rakyat Jawa Tengah Dongeng Timun Emas dan Mbok Rondo Dadapan Asal Usul Huruf Jawa Cerita asal-usul pembuatan huruf Jawa berlanjut. Kerajaan Medang Kamulan tumbuh menjadi kerajaan besar. Penambahan luas wilayah kerajaan diikuti oleh banyaknya perampok yang berkeliaran di rumah-rumah penduduk pada malam hari. Pada suatu hari Prabu Ajisaka ingat bahwa keris pusakanya tertinggal di lereng Gunung Kendeng. Maka Dora diperintahkan untuk mengambil keris pusaka itu agar bisa digunakan membasmi para perampok. Prabu Ajisaka berpesan kepada Dora, “Katakan kepada Sembada bahwa aku memerintahkan kamu menjemput keris pusaka itu. Ajaklah Sembada kemari.” Setelah bertemu dengan Sembada, Dora menceritakan semua kejadian di Medang Kamulan. Dari awal mula ia menemani Ajisaka turun gunung, membantu rakyat miskin bercocok tanam, hingga membunuh Prabu Dewatacengkar yang memiliki kebiasaan makan daging warga setempat. Lalu Dora menyampaikan perintah Prabu Ajisaka. Ia harus menjemput keris pusaka dan mengajak Sembada menghadap ke Medang Kamulan. Sembada tidak bersedia menyerahkan keris pusaka itu. Katanya, “Bukankah dulu Raden Aji Saka berjanji untuk mengambil sendiri keris pusaka ini? Aku juga mendapat pesan untuk tidak menyerahkan keris ini kepada orang lain.” “Memang benar,” ujar Dora. “Tetapi pada saat ini baginda sangat sibuk. Banyak urusan kerajaan yang harus diselesaikannya. Karena itu, akulah yang diutusnya. Aku mengemban tugas seorang raja.” Meski telah mendengar penjelasan Dora, Sembada tetap tidak mau menyerahkan keris pusaka itu. Hal ini menyebabkan Dora menjadi marah. “Ingat,” katanya, “aku adalah duta baginda. Dan aku wajib menjalankan segala perintahnya.” “Aku juga abdinya,” sahut Sembada.” Aku pun wajib menjalankan segala titahnya.” Cerita rakyat Jawa Tengah menyebutkan bahwa pertengkaran itu kemudian berkembang menjadi perkelahian. Bahkan akhirnya Dora maupun Sembada menggunakan senjata masing-masing. Keduanya sama-sama sakti karena belajar ilmu bela diri dari guru yang sama, yaitu Ajisaka. Setelah lama bertarung, Dora dan Sembada bersama-sama gugur. Tidak ada yang kalah, tidak ada yang menang. Prabu Ajisaka yang telah lama menunggu-nunggu kedatangan kedua abdinya menjadi tidak sabar. Dengan pengiring secukupnya, Prabu Ajisaka menyusul ke lereng Pegunungan Kendeng. Menyaksikan kedua abdinya yang setia bersama-sama tewas, Prabu Ajisaka sangat sedih. Sang Prabu menyadari bahwa baik Dora maupun Sembada telah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Dora benar, karena melaksanakan perintah raja. Sebaliknya Sembada juga tidak salah, karena menjunjung tinggi pesannya. Prabu Ajisaka sendiri yang bersalah. Untuk mengenang dan menghargai jasa kedua abdinya itu, Prabu Ajisaka menggubah sebuah sajak. Kelak sajak itu akan dikenal sebagai huruf Jawa. Sajak itu dimaksudkan untuk mengenang kedua abdinya yang gugur dalam mengemban tugas. Beginilah bunyi sajak itu “hana caraka data sawala padhajayanya maga bathanga” yang terjemahan harfiahnya kurang lebih “ada utusan mereka bertengkar sama-sama sakti semua menjadi mayat.” Demikian asal usul terciptanya huruf Jawa dari kisah hidup para pengawal Prabu Ajisaka. Jika diterjemahkan secara bebas, sajak Prabu Ajisaka mengandung arti kurang lebih sebagai berikut. Tersebutlah dua orang utusan Dora dan Sembada. Mereka terlibat dalam suatu pertengkaran karena kedua-duanya merasa benar. Karena kedua utusan itu sama-sama sakti, maka mereka gugur bersama-sama. Prabu Ajisaka memerintahkan rakyatnya menghafalkan sajak itu. Dengan demikian, kesetiaan Dora dan Sembada kepada tugas akar selalu dikenang. Demikian pula diharapkan agar rakyat Medang Kamulan dan segenap keturunannya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Prabu Ajisaka. Untuk setiap suku kata pada sajak itu dibuatkan suatu tanda khusus. Ini kelak menjadi urut-urutan huruf yang kemudian dikenal sebagai huruf Jawa. Sampai saat ini, orang Jawa masih mempergunakan huruf itu. Pesan Moral Cerita Rakyat Pesan moral yang terkandung dalam cerita legenda Prabu Ajisaka adalah perilaku terpuji Ajisaka dalam melakukan kegiatan kemanusiaan perlu dicontoh. Ajisaka datang ke Pulau Jawa untuk menyebarkan pengetahuan dan memerangi kebodohan. Ajisaka tidak menggunakan kepandaiannya untuk memperkaya diri sendiri. Sebaliknya, Prabu Ajisaka malah memanfaatkan ilmu yang dimiliki untuk memperbaiki nasib rakyat kecil. Amanat cerita rakyat dari Jawa Tengah ini juga mengajarkan agar kita selalu menjunjung tinggi nilai kemanusiaan. Ajisaka yang mendengar kelaliman Prabu Dewatacengkar bermaksud menolong rakyat Medang Kamulan. Ajisaka tidak mempedulikan keselamatan diri demi menolong rakyat yang hidup susah. Terdorong untuk menolong sesama manusia, Ajisaka berani mempertaruhkan nyawanya. Setelah menjadi raja, Ajisaka memerintah dengan adil dan bijaksana. Ajisaka juga berusaha memintarkan rakyatnya dan menciptakan kehidupan yang aman dan tenteram. Maka pesan moral yang termuat dalam cerita rakyat Jawa Tengah ini adalah agara Anda selalu mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi atau golongan. Dalam cerita legenda asal-usul terciptanya huruf Jawa dikisahkan bahwa Dora dan Sembada rela gugur dalam tugas menegakkan kebenaran. Amanat cerita legenda Prabu Aji Saka ini adalah agar kita berani membela kebenaran dan keadilan. Seringkali para pembela kebenaran akan mendapatkan halangan dalam melangkah. Meski demikian, teruslah berbuat baik karena halangan adalah cara bagi Anda untuk menjadi manusia lebih kreatif. Demikian asal-usul terciptanya huruf Jawa yang bersumber dari kisah legenda dari Tanah Jawa Prabu Ajisaka dari Kerajaan Medang Kamulan. Semoga artikel ini bisa menambah wawasan Anda. Daftar Pustaka Tim Penyusun Cerita Rakyat Laboratorium Pancasila IKIP Malang. 2008. Cerita Rakyat Dalam Kaitan Butir-butir Pancasila. Malang Balai Pustaka. Artikel Terkait Inilah pertemuan aji saka dan nabi muhammad dan ulasan lainnya yang berkaitan erat dengan topik pertemuan aji saka dan nabi muhammad serta aneka informasi dunia misteri yang Anda butuhkan. Silhkan klik pada judul artikel-artikel berikut ini untuk membaca penjelasan lengkap tentang pertemuan aji saka dan nabi muhammad. Semoga bermanfaat! …bawah ini. Mereka itu adalah Nabi Khidir Alaihissalam, Nabi Idris Alaihissalam, Nabi Ilyas Alaihissalam dan Nabi Isa Alaihissalam. Inilah kekuasaan ALLAH SWT terhadap Nabi yang di percayakan pada-NYA. Kisah Nabi……masih dapat ditemukan nubuat-nubuat para nabi yang memberikan sinyalemen akan datangnya seorang nabi terakhir yang menutup keberadaan para nabi sebelumnya. Keberadaan nabi terakhir yang pamungkas ini sangat penting artinya untuk……Abdul Muttalib dan puteranya, Abdullah. Dengan cara inilah, Allah menjaga kemurnian silsilah tanpa cela dari Nabi Muhammad sall-Allahu alayhi wasallam, dari perzinaan orang-orang bodoh. Ibn Abbas radiyAllahu anhu berkata, “Muhammad……sejak lama ada, disebarkan melalui fitnah yang terjadi di antara manusia yang telah diperdaya oleh hawa nafsunya sendiri. Bahkan Nabi saw memperingatkan bahwa kelompok umat Nabi Muhammad yang tidak hanyut…Suatu ketika Nabi Muhammad sedang makan-makan bersama-sama para sahabatnya seperti biasanya. Nabi Muhammad melihat kenyataan bahwa salah satu sahabatnya ketika mulai makan tidak membaca “bismillah…”, Rasul mendiamkan saja situasi tersebut……para Nabi sebelum Nabi Muhammad, dakwahnya hanya terbatas pada kaumnya saja. Misal, Nabi Isa AS, beliau bertugas hanya sebagai utusan Tuhan bagi Bani Israil saja.. QS 4359. Isa tidak lain……shalat merupakan hadiah terbaik bagi mereka dan menjadi peninggalan yang paling berharga bagi keturunannya. Mina dan Arafat juga menjadi saksi penegakan shalat oleh Nabi Ibrahim as dan putranya, Nabi Ismail……Enos bin Nabi Syits Seth bin Nabi Adam, hal ini bermakna jarak antara Nabi Nuh dengan leluhur umat manusia Nabi Adam, tidaklah begitu jauh hanya berjarak sekitar 9 generasi, benarkah……Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang… Demikianlah beberapa uraian kami tentang pertemuan aji saka dan nabi muhammad. Jika Anda merasa belum jelas, bisa juga langsung mengajukan pertanyaan kepada MENARIK LAINNYAciri ciri keturunan brawijaya v, jodoh satrio piningit, Ciri keturunan Aji Saka, Pangeran sangga buana, asal usul mahesa suro, Ciri-ciri fisik keturunan Banten, ciri-ciri keturunan jaka tingkir, Ciri-ciri KETURUNAN Tubagus, ciri keturunan batoro katong, silsilah keturunan dewi lanjar ArticlePDF Available AbstractTulisan ini merupakan hasil penelitian secara filologis dan resepsi terhadap teks-teks Cerita Aji Saka CAS yang terdapat di dalam khazanah pernaskahan Sunda lama. Penelitian terhadap CAS ditujukan untuk mendapatkan suntingan teks, hubungan antarteks, dan tanggapan masyarakat terhadap cerita tersebut. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kritik teks objektif dan metode interteks. Metode objektif digunakan untuk merunut silsilah naskah. Metode interteks digunakan untuk membandingkan versi-versi CAS sehingga dapat diketahui dari sumber mana versi-versi itu berasal. Naskah-naskah Sunda yang memuat CAS di dalam penelitian ini ada sebelas naskah. Hasil perbandingan antarteks menunjukkan bahwa Cerita Aji Saka sangat populer dalam tradisi tulis masyarakat Sunda. Di dalam naskah Sajarah Galuh, buku Gandasari, Sekar Aosan, dan roman Mantri Jero tokoh Aji Saka dilegitimasi sebagai tokoh sejarah yang benar-benar ada dan hidup pada abad ke-5 Masehi yang peranannya sangat mempengaruhi perkembangan kejiwaan pembacanya untuk meneladani budi pekerti dari peristiwa yang terjadi pada Cerita Aji Saka. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. 91Volume 7METAHUMANIORAHalaman 91—99Nomor 1 April 2017PERBANDINGAN TEKS CERITA AJI SAKADALAM TRADISI TULIS MASYARAKAT SUNDAMamat RuhimatTauk AmperaRahmat SopianFakultas Ilmu Budaya Universitas PadjadjaranABSTRAKTulisan ini merupakan hasil penelitian secara lologis dan resepsi terhadap teks-teks Cerita Aji Saka CAS yang terdapat di dalam khazanah pernaskahan Sunda lama. Penelitian terhadap CAS ditujukan untuk mendapatkan suntingan teks, hubungan antarteks, dan tanggapan masyarakat terhadap cerita tersebut. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kritik teks objektif dan metode interteks. Metode objektif digunakan untuk merunut silsilah naskah. Metode interteks digunakan untuk membandingkan versi-versi CAS sehingga dapat diketahui dari sumber mana versi-versi itu berasal. Naskah-naskah Sunda yang memuat CAS di dalam penelitian ini ada sebelas naskah. Hasil perbandingan antarteks menunjukkan bahwa Cerita Aji Saka sangat populer dalam tradisi tulis masyarakat Sunda. Di dalam naskah Sajarah Galuh, buku Gandasari, Sekar Aosan, dan roman Mantri Jero tokoh Aji Saka dilegitimasi sebagai tokoh sejarah yang benar-benar ada dan hidup pada abad ke-5 Masehi yang peranannya sangat mempengaruhi perkembangan kejiwaan pembacanya untuk meneladani budi pekerti dari peristiwa yang terjadi pada Cerita Aji Kunci tradisi tulis, resepsi, teksABSTRACTThis paper is the result of a research on philology study and reception of the texts of Cerita Aji Saka CAS in the treasures of Sundanense ancient manuscripts. The research of CAS aims to gain the text editing, intertextual connection, and the society’s perception of the research uses the methods of objective textual criticism and intertextuality. The objective method is used to trace the genealogy of the manuscript. The intertextual method is used to compare multiple versions of CAS to discover the source of every version. There are eleven Sundanese manuscripts containing CAS in the research. The result of intertextual comparison shows that Cerita Aji Saka is very popular in the literary tradition of Sundanese people. In the manuscripts of Sajarah Galuh, the books of Gandasari, Sekar Aosan, and the romance of Mantri Jero, the character of Aji Saka is legitimated as a historical gure that really existed and lived in the 5th century AD whose role has a great inuence on the mental development of the readers to imitate the character and the events occurring in Cerita AJi Saka. Keywords literary tradition, reception, textI. PENDAHULUANNaskah-naskah Sunda lama pada umumnya belum tergarap secara lologis. Sebagian besar masih tersimpan baik di museum-museum, perpustakaan dalam dan luar negeri, maupun koleksi lembaga dan perorangan yang tentu saja sangat menarik untuk diteliti. Penggarapan naskah yang serius sangat diperlukan untuk menjaga kelestarian dokumen kebudayaan dan menggali pesan-pesan yang terkandung di dalamnya untuk dimanfaatkan dalam kehidupan di masa sekarang dan yang akan datang. 92 METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99Mamat Ruhimat, Tauk Ampera, Rahmat SopianPelestarian naskah lama tidak hanya terbatas sampai tingkat pengoleksian dan pengkatalogan. Pengkajian secara lologis yang disertai suntingan teks akan lebih bermanfaat bagi pelestarian dan pemanfaatan kembali teks-teks yang sudah dilupakan oleh masyarakat pemiliknya. CAS merupakan salah satu khazanah Sastra Sunda yang berkembang terus sampai sekarang. Cerita ini tidak saja tersurat di dalam naskah-naskah lama tetapi juga masih menjadi bahan bacaan dalam buku pelajaran di sekolah Insani, 1991. Hal ini membuktikan bahwa tanggapan dan penerimaan masyarakat Sunda terhadap CAS masih sangat besar. Sebagian besar orang Sunda masih percaya bahwa aksara Sunda Cacarakan dibuat oleh Aji Saka Raja Medang dilihat dari penyajian cerita, CAS ternyata memiliki variasi sesuai dengan persepsi dan penerimaan masyarakat. Tidaklah mengherankan kalau CAS terdiri dari versi-versi yang berlainan dan bermacam-macam. Hal ini akan sangat menarik untuk diteliti secara pragmatik untuk mengungkapkan sejauhmana masyarakat Sunda mengenal dan menerima CAS sebagai tokoh yang dimitoskan sebagai pencipta aksara Cacarakan. Penelitian terhadap CAS difokuskan pada tekstologi, tanggapan dan penerimaan masyarakat Sunda terhadap CAS yang melahirkan berbagai macam versi dan bentuk cerita. Bagaimana mengungkapkan sejarah teks, tradisi dan transmisi teks, sehingga sumber teks bisa diketahui? Bagaimana tanggapan dan penerimaan masyarakat Sunda terhadap CAS dari dulu sampai sekarang?II. METODE PENELITIANMetode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif komparatif analisis. Metode deskriptif komparatif analisis digunakan untuk memaparkan atau memberikan gambaran tentang keadaan naskah yang diteliti berdasarkan hasil wawancara dengan penulis atau pemilik naskah, apa yang tercantum dalam katalog, dan informasi dari dalam naskah itu sendiri. Selanjutnya, hasil deskripsi tersebut dibandingkan dan diteliti untuk diketahui sebab-musababnya, duduk perkaranya, atau prosesnya Badudu dalam Ma’mun, 1998a 50. Langkah selanjutnya adalah melakukan pengkajian terhadap penelitian yang dilakukan untuk mencari naskah CAS bagi sumber data penelitian ini melalui studi pustaka dan studi lapangan. Studi pustaka dilakukan untuk mencari informasi naskah-naskah Sunda lama yang memuat CAS baik dalam katalog maupun hasil penelitian. Berdasarkan informasi dari hasil studi pustaka selanjutnya dilakukan studi lapangan untuk mencari keberadaan naskah-naskah CAS tersebut. Dari sebelas 11 naskah CAS yang diinventarisasi, baru dua 2 naskah yang ditemukan. Kedua naskah tersebut tersimpan pada koleksi Perpustakaan Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran di Bandung. Buku bacaan yang memuat CAS ada empat 4 judul yaitu 1 Mantri Jero Sastrahadiprawira, 1928, 1983, 2 Gandasari Sastraatmadja, 1951, 3 Sekar Aosan Insani, Cetakan I 1991 dan 4 Sekar Aosan Insani, Cetakan II 1991. Metode kajian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kritik teks objektif dan metode interteks. Metode objektif digunakan untuk merunut silsilah naskah. Metode objektif yang sampai kepada perunutan silsilah naskah disebut juga metode stema Baried, 1994. Metode interteks digunakan untuk membandingkan versi-versi CAS sehingga dapat diketahui dari sumber mana versi-versi itu berasal. Perbandingan Teks Cerita Aji Saka dalam Tradisi Tulis Masyarakat SundaMETAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99 93 III. HASIL DAN BAHASAN1. Inventarisasi NaskahBerdasarkan hasil penelusuran dalam katalog, naskah-naskah Sunda lama yang memuat CAS berjumlah 11 buah, yaitu 1 Sajarah Galuh koleksi Perpustakaan Nasional RI,2 Carios Wiwitan Raja-raja di Pulo Jawa koleksi Perpustakaan Nasioanl RI,3 Kitab Sajarah Sumedang YPS 32 koleksi Museum Pangeran Geusan Ulun Sumedang,4 Kitab Waruga Jagat NUB 1635/NIB 03 koleksi Museum Pangeran Geusan Ulun Sumedang,5 Aji Saka koleksi Universiteit Bibliotheek Leiden,6 Cerita Bumi Sagaluh koleksi Universiteit Bibliotheek Leiden,7 Wawacan Sajarah Galuh koleksi Universiteit Bibliotheek Leiden,8 Medang Kamulan, koleksi Andi Kampung Cisondari Desa/Kec. Pasirjambu, Bandung Ekadjati Ed., 1988. 9 Berdasarkan hasil temuan naskah dari masyarakat diperoleh dua buah naskah yang memuat CAS, yaitu 10 Sajarah Galuh SS 2162 11 Babad Aji Saka SSUP006A koleksi Perpustakaan Jurusan Sastra Daerah Universitas itu CAS juga ditemukan dalam empat buku yang telah diterbitkan 1 Mantri Jero Sastrahadiprawira, cetakan pertama 1928, cetakan ke-3 19832 Gandasari IV Sastraatmadja, 19513 Sekar Aosan Insani, 1957 4 Sekar Aosan Insani, 1991.Sampai saat ini, naskah yang telah ditemukan dalam kesempatan ini baru dua buah, yaitu Sajarah Galuh SG dan Babad Aji Saka, di samping keempat buku cetakan yang tercantum dalam daftar di Perbandingan TeksNaskah yang dibandingan pada perbandingan teks baru satu buah yaitu Sajarah Galuh SG karena baru naskah ini yang berhasil dibuat transliterasinya. CAS dalam SG kemudian dibandingkan dengan Mantri Jero MJ dan Sekar Aosan SA. Kedua buku ini dianggap mewakili CAS untuk perbandingan persepsi dan resepsi pengarang terhadap Jero merupakan roman sejarah kehidupan bangsawan Sunda, khususnya kabupaten Nagara Tengah di Priangan Timur setelah ditaklukan oleh Mataram. Roman ini ditulis oleh R. Memed Sastrahadiprawira, diterbitkan pertama kali oleh Bale Poestaka pada tahun 1928 dan diterbitkan ulang oleh Rahmat Cijulang pada tahun 1983. CAS termasuk kedalam bagian cerita ketika Yogaswara sedang diajari menulis aksara Jawa hana caraka oleh ayahnya. Sedangkan Sekar Aosan merupakan buku bacaan anak Sekolah Dasar untuk menunjang mata pelajaran Bahasa Sunda. Buku yang disusun oleh Insani ini pertama kali diterbitkan tahun 1957 oleh Tarate dan diterbitkan ulang dengan revisi pada tahun 1991 oleh Pamugat. CAS termuat secara lengkap pada edisi tahun 1957 dan merupakan kutipan dari Gandasari IV Sastraatmadja, 1951. Sedangkan pada edisi 1991 CAS bagian pertama dihilangkan dengan alasan undak-usuk tingkat tutur’ bahasa Sundanya kacau dan membingungkan ringkasan cerita, berikut ini perbandingan alur CAS yang ada pada SG, MJ dan SA. 94 METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99Mamat Ruhimat, Tauk Ampera, Rahmat SopianNo. Sajarah Galuh SGSS 2162Mantri Jero MJ1928Sekar Aosan SA 19571 Silsilah Ratu Galuh dari Nabi Adam Galuh mempunyai 4 pelayan Ki Bondan, Ki Bonde Jaya, Ki Bonde Sura dan Ki Bonde Bonde Sura dan Ki Bonde Jali menjadi pandai besi. Ki Bondan diangkat menjadi raja. Ratu Galuh bertapa bersama Ki Bonde JayaKeadaan pulau Jawa seribu lima ratus tahun yang Galuh bergelar Ajar Gunung Padang, Ki Bonde Jaya bergelar Ki Kuwu Bungur atau Ki KuresDi Jawa sebelah barat ada sebuah Kures berputra Bagawan Dursila. Bagawan Dursila berputra Kaji SakaSang raja mempunyai putra bernama Pangeran TritrustaKaji Saka pergi ke Mekah berguru agama Islam kepada Nabi Muhammad SAW dan diangkat menjadi Tritrusta disuruh belajar ke negeri Atas AnginKaji Saka tergoda oleh setan hingga Tri Trusta belajar Agama Buda Saka sehingga namanya diganti menjadi Aji SakaKaji Saka disuruh kembali ke Nusa Jawa sambil menyebarkan tulisan disertai dua orang Saka kembali ke pulau Jawa membawa serta pengikutnya dari Atas Angin .Kaji Saka pulang tetapi tulisan tertinggal. Kedua pengawal disuruh kembali pergi untuk membangun negeri baru Aji Saka menitipkan pusaka kepada Ki Muhammad SAW menyuruh dua sahabat mengantarkan tulisan kepada Kaji SakaAji Saka membuat negeri baru yang dinamai Medang KamulanPengawal dan sahabat bertemu, saling mempertahankan pendapat hingga berkelahi dan matiAji saka menyuruh Ki Dora mengambil pusaka titipan pada Ki Sembada Perbandingan Teks Cerita Aji Saka dalam Tradisi Tulis Masyarakat SundaMETAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99 95 Kaji Saka mencari pengawalnya dan ditemukan telah mati bersama sahabat Sembada tidak mau memberikan pusaka itu karena ingat akan wasiat Aji Saka untuk tidak memberikannya kepada orang lainKaji Saka membaca tulisan yang berbunyi hana caraka data sawala pada jayanya maga batanga yang kemudian disebut aksara Jawa. Hana caraka timur, data sawala selatan, pada jayanya barat, maga batanga panakawan berkelahi hingga terluka Saka pulang ke Nusa Jawa, tinggal di rumah seorang janda di Medang Saka menyusul ke tempat Ki Sembada dan melihat kedua panakawannya luka Medang Kamulyan, Jawata Cengkar suka makan kedua panakawan menjelaskan ihwal masing-masing mereka pun matiRaja Medang Kamulan bernama Dewata Cengkar suka memakan manusiaKaji Saka mendirikan sekolah di kampungnya dan mengajarkan aksara JawaAji Saka membuat peringatan atas kejadian tersebut dengan menuliskan aksara pada sebatang kayuKetika Kaji Saka sedang buang air kecil ia melihat paha janda tersingkap. Kamanya keluar dan dimakan ayam jantan hingga bertelur. Telur disimpan di lumbung sebagai tersebut berbunyi hana caraka data sawala pada jayanya maga batanga atinya ada dua utusan berkelahi sama kuatnya hingga keduanya menjadi Saka bertemu patih yang sedang mencari manusia untuk makanan Jawata bertemu seorang anak yang berumur 10 tahun yang bernama Aji SakaKaji Saka bersedia jadi santapan Jawata Saka bersedia menjadi santapan Dewata Cengkar asal kalau dapat membunuh Dewata Cengkar diberi tanah seluas ikat kepalaKaji Saka tidak bisa dimakan karena Saka tidak bisa dimakan karena kebal. 96 METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99Mamat Ruhimat, Tauk Ampera, Rahmat SopianJawata Cengkar disuruh mengulur destar Kaji Saka dulu supaya bisa memangsanya. Aji Saka masuk ke dalam kerongkongan Dewata CengkarDestar tidak habis diulur hingga Jawata Cengkar jatuh ke laut dan mati kemudian menjelma menjadi buaya putih yang memusuhi Kaji SakaTubuh Aji Saka membesar sehingga Dewata Cengkar mati karena kerongkongannya pecah. Kaji Saka menjadi raja di Medang Kamulyan. Mendirikan sekolah hingga banyak raja lain yang belajar. Aji Saka mengulur ikat kepala hingga seluruh pulau Jawa tertutupi. Aji Saka menjadi yang disimpan di lumbung menentas menjadi naga. Naga mencari ayahnya hingga bertemu Kaji Saka ingat akan dua orang panakawan yang ditinggal di Pulo Majeti yaitu Dora dan SembadaKaji Saka mau mengakui anak asal sang naga bisa mengalahkan buaya putih di Segara Saka menyuruh Ki Duduga dan Prayoga mengundang Ki Dora dan Sembada serta membawa pusaka yang dititipkan pada merekaNaga dapat mengalahkan buaya putih dengan bantuan Unajaya, pengawal Nyi Rara KidulKi Dora mengajak Sembada ke Medang Kamulan tetapi ki Sembada Saka menyuruh Ki Dora untuk memaksa Ki Sembada agar datang ke Medang Sembada tidak mau pergi hinga berkelahi dengan Ki Dora dan keduanya pun Saka menyuruh Duduga dan Prayoga menyusul ke Pulo MajetiDuduga dan Prayoga melaporkan Dora dan Sembada telah mati. Aji Saka pergi ke Pulo Majeti Perbandingan Teks Cerita Aji Saka dalam Tradisi Tulis Masyarakat SundaMETAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99 97 Aji Saka menyesal telah membuat perintah yang menyebabkan mereka meninggalsebagai peringatan atas kesetiaan mereka Aji Saka membuat aksara Sunda yang berbunyi hana caraka ada utusan data sawala saling berebut kebenaran pada jayanya sama kuatnya maga batanga hingga menjadi mayat.3. ResepsiPada naskah Sajarah Galuh terlihat bahwa tokoh Aji Saka dianggap benar-benar ada dan merupakan penyebar aksara yang berasal dari dua puluh huruf pemberian Nabi Muhammad SAW. Ketika Aji Saka telah selesai berguru agama Islam kepada Nabi Muhammad SAW ia berganti nama menjadi Haji Saka lalu disuruh kembali ke Tanah Jawa dengan dibekali surat berisi 20 aksara yang diambil dari mega. Angka 20 mengingatkan kita kepada jumlah sifat wajib Allah SWT yang jumlahnya 20 atau disebut Sifat Dua Puluh. Selain itu, Nabi Muhammad juga menghadiahkan Doa Qunut kepada Aji Saka sebagai ganjaran atas “kenakalannya”. Aji Saka telah dilegitimasi sebagai tokoh Islam dan merupakan sahabat Nabi Muhammad SAW. Hal ini menandakan bahwa CAS telah diterima sebagai bagian dari silsilah keturunan raja-raja dan bupati Galuh Ciamis yang telah menganut agama Islam. Pendekatan Aji Saka sebagai shahabat Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu bentuk legitimasi bahwa Aji Saka dan aksara Jawa yang dibawanya benar-benar Islami. Doa Qunut harus dibaca sir pelan’ pada kalimat fa innaka taqdi menunjukkan bahwa pengarang Sajarah Galuh ingin memberikan legitimasi peranan Aji Saka sangat besar dalam penyebaran agama Islam di Jawa. Dengan melegitimasi Aji Saka sebagai tokoh penyebar Islam di Kabupaten Galuh Ciamis maka akan timbul perasaan bangga pada orang Galuh bahwa dirinya benar-benar penganut agama Islam yang paling dahulu awwalul muslimin sebagaimana pengakuan Nabi Ibrahim AS dalam Alquran.25 Lajeng baé namana ku Kangjeng Rasul, éta téh tuluy disalin, pun Haji Saka nu mashur, lajeng dipaparin isim, surat dua puluh yaktos.26 Tina méga waktuna aksara nyabut, sebab kersa Kangjeng Nabi, aksara nu dua puluh, /70/ keur di Nusa Jawa yakti, Jeng Nabi deui nyarios. 98 METAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99Mamat Ruhimat, Tauk Ampera, Rahmat Sopian27 Ieu kula ieu nyieun Dunga Kunut, lebah fa innaka taqdhi, tangtuna ku euyna tangtu, éta dituluykeun tadi, engké dibacana tangtos.28 Meumeueusan ulah kakuping ku batur, sebab éta waktu tadi, nulis dituluykeun batur, ku sahabat geus kaharti, dawuhan Nabi nu pula, setelah Aji Saka mendapat perintah untuk menyebarkan aksara Jawa yang diberikan oleh Rasulullah, maka susunan aksara Jawa hana caraka data sawala pada jayanya maga batanga di dalam Sajarah Galuh dipakai untuk menyebut empat arah mata angin yang utama.01 Ungelna lebeting surat,ieu tulis aksara Jawa sayakti,Haji Saka kudu muruk,engké sadatang-datang,tangtu pisan Haji Saka jadi ratu,berekah ieu aksara,sinareng sapa’at Nabi.02 Lajeng dibaca ungelna,kieu pokna hana caraka yakti,sasaka wétan disebut,sareng data sawala,enya éta perenah sasaka kidul,sinareng pada jayanya,sasaka kulon sayakti.03 Jeung éta maga batanga,nya di kalér sasakana geus yakti,sang Haji Saka ngamaphum,éh ieu pandakawan,menta surat parebut ngajadi / gelut, /73/sebab kieu aksarana,maga batanga téh Mantri Jero terlihat bahwa pengarang telah menggunakan persepsi sejarah yang agak logis yaitu dengan memperkirakan keadaan pulau Jawa tahun yang lalu. Jika pengarang menghitung jangka waktu tersebut dari tahun 1900an, kemungkinan bahwa Aji Saka hidup sekitar tahun 400 M. dengan demikian Aji Saka dianggap hidup sezaman dengan kerajaan Tarumanagara. Sebagaimana telah diketahui bahwa aksara Pallawa mulai dipergunakan untuk menulis prasasti pada masa kerajaan ini. Kepergian Aji Saka untuk berguru agama Buda ke negeri Atas Angin pun cukup logis karena hubungan kerajaan Tarumanagara dengan India dan China sangat baik. Dengan demikian, pengarang Mantri Jero berusaha menempatkan Aji Saka sebagai pelaku sejarah dan bukan hanya sekedar mitos. Penceritaan Aji Saka oleh Memed di dalam dialog antara Raden Wirautama dengan Perbandingan Teks Cerita Aji Saka dalam Tradisi Tulis Masyarakat SundaMETAHUMANIORA, Vol. 7, Nomor 1 April 2017 91—99 99 Yogaswara dimaksudkan untuk memberikan pendidikan moral bagi pemuda yang mau belajar menjadi pegawai pemerintah. Secara eksplisit Memed menanamkan pengajaran budi pekerti bagi para pemuda calon ambtenaar pegawai pemerintah’ pada zamannya untuk selalu setia kepada atasan. Apapun perintah atasan harus selalu dipatuhi oleh bawahannya. Ia tidak boleh memercayai orang lain yang menjadi suruhan atasan apabila tidak ada saksi yang menguatkan perintah atasan tersebut. Jika perlu, lebih baik mati daripada harus menghianati perintah atasan. Pada Sekar Aosan, pengarang berusaha menyajikan CAS sebagai bahan pengajaran moral dan pekerti. Tokoh Aji Saka sendiri terasa kurang menonjol jika dibandingkan dengan tokoh Ki Dora dan Ki Sembada. Bahkan pada Sekar Aosan cetakan kedua 1991 bagian pertama dihilangkan. Pengarang bermaksud menanamkan ajaran moral kapengkuhan kepatuhan’ terhadap perintah atasan. Demikian pula sikap seorang pemimpin tidak boleh lanca-linci ingkar janji’ sehingga menyebabkan bawahan binasa. Seorang pemimpin tidak boleh melupakan janji atau peraturan yang telah ia buat bersama orang lain atau bawahan sekalipun. IV. PENUTUP Cerita Aji Saka CAS ternyata sangat digemari oleh masyarakat Sunda baik sebagai tokoh sejarah tradisional, maupun tokoh yang dimitoskan sebagai pencipta aksara Cacarakan. CAS tertulis di dalam naskah-naskah Sunda lama maupun di dalam buku-buku cetakan yang masih dipergunakan sebagai buku ajar di sekolah sampai akhir abad ke-20. CAS juga tertulis dengan berbagai variasi yang melahirkan versi-versi. Hal ini menunjukkan bahwa CAS berkembang sesuai dengan persepsi dan penerimaan masyarakat SUMBER Baried, Siti Baroroh, dkk. 1994. Pengantar Teori Filologi. Yogyakarta Badan Penelitian dan Publikasi Fakultas BPPF Seksi Filologi Fakultas Sastra Universitas Gadjah Edi S. 1986. Ceritera Dipati Ukur Karya Sastra Sejarah Sunda. Jakarta Pustaka Edi S. Ed.. 1988. Naskah Sunda Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung Toyota Foundation dan Universitas Edi S. dkk. Penyunting. 1999. Direktori Edisi Naskah Nusantara. Jakarta Masyarakat Pernaskahan Nusantara – Yayasan Obor Edi S. dan Undang Ahmad Darsa. 1999. Katalog Induk Naskah Nusantara Jilid 5a Jawa Barat Koleksi Lima Lembaga. Jakarta Masyarakat Pernaskahan Nusantara – Yayasan Obor Achadiati. 1980. Hikayat Sri Rama Suntingan Naskah Disertai Telaah Amanat dan Struktur. Jakarta UI 1957. Sekar Aosan. Bandung Tarate 1991. Sekar Aosan. Bandung Partini Sardjono. 1986. Kakawin Gajah Mada Sebuah Karya Sastra Kakawin Abad ke-20 Suntingan Naskah serta Telaah Struktur, Tokoh dan Hubungan Antarteks. Bandung 1994. Prinsip-prinsip Filologi di Indonesia Terjemahan oleh Kentjanawati Gunawan. Jakarta R. Rg. 1951. Gandasari IV. Groningen-Djakarta R. Memed. 1983. Mantri Jero. Bandung Rahmat Sulastin. 1981. Relevansi Studi Filologi. Yogyakarta Hikayat Hang Tuah Analisa Struktur dan Fungsi. Yogyakarta Gadjah Mada University 1972. Babad Buleleng A Balinese Dynastic Genealogy. The Hague Martinus Nijhoff-KITLV. ResearchGate has not been able to resolve any citations for this Dipati Ukur Karya Sastra Sejarah SundaEdi S EkadjatiEkadjati, Edi S. 1986. Ceritera Dipati Ukur Karya Sastra Sejarah Sunda. Jakarta Pustaka 1999. Direktori Edisi Naskah NusantaraEdi S Dkk EkadjatiEkadjati, Edi S. dkk. Penyunting. 1999. Direktori Edisi Naskah Nusantara. Jakarta Masyarakat Pernaskahan Nusantara -Yayasan Obor Aosan. Bandung Tarate 1991. Sekar AosanInsaniInsani. 1957. Sekar Aosan. Bandung Tarate 1991. Sekar Aosan. Bandung Buleleng A Balinese Dynastic Genealogy. The Hague Martinus Nijhoff-KITLVP J WorsleyWorsley, 1972. Babad Buleleng A Balinese Dynastic Genealogy. The Hague Martinus Nijhoff-KITLV. Dalam prasasti Kui 840M disebutkan bahwa di Jawa terdapat banyak pedagang asing dari mancanagara untuk berdagang misal Cempa Champa, Kmir Khmer-Kamboja, Reman Mon, Gola Bengali, Haryya Arya dan Keling. Untuk kebutuhan administrasi, terdapat para pejabat lokal yang mengurusi para pedagang asing tersebut, misal Juru China yang mengurusi para pedagang dari China dan Juru Barata yang mengurusi para pedagang dari India. Mereka seperti Konsul yang bertanggung jawab atas kaum pedagang asing. Di dalam catatan sejarah, kita mengenal gelar “Sang Haji Sangaji” merupakan gelar dibawah “Sang Ratu”, seperti contoh Haji Sunda pada Suryawarman 536M dari Taruma, Haji Dharmasetu pada Maharaja Dharanindra 782M dari Medang. Haji Patapan pada Maharaja Samaratunggadewa 824M dari Medang. Sumber History of Java Nusantara Legenda Ajisaka Dalam legenda tanah Jawa, kita mengenal nama tokoh Ajisaka. Ajisaka sangat mungkin, berasal dari kata Haji Saka, bermakna Perwakilan Negara Duta atau Konsul yang bertanggung jawab atas para pedagang asing, yang berasal dari negeri Saka Sakas. Lalu dimanakah Negeri Sakas itu? Di dalam sejarah India, dikenal negara Sakas atau Western Satrap Sumber Western Satrap, Wikipedia. Pada tahun 78M Western Satrap Sakas mengalahkan Wikramaditya dari Dinasti Wikrama India. Kemenangan pada tahun 78M dijadikan sebagai tahun dasar dari penanggalan kalender Saka. Wilayah Western Satrap mencakup Rajastan, Madya Pradesh, Gujarat, dan Maharashtra. Para raja dari Western Satrap biasanya memakai dua bahasa yaitu Sankrit Sansekerta dan Prakit serta dua aksara yaitu Brahmi dan Yunani dalam proses pembuatan prasasti dan mata uang logam kerajaan. Sejak pemerintahan Rudrasimha 160M-197M, pembuatan mata uang logam kerajaan selalu mencantumkan tahun pembuatannya berdasarkan pada Kalender Saka. Keberadaan Sakas dengan Kalender Saka-nya, nampaknya bersesuaian dengan Legenda Jawa, yang menceritakan Ajisaka Haji Saka, sebagai pelopor Penanggalan Saka di pulau Jawa. Dewawarman I, bukan Ajisaka Di dalam Naskah Wangsakerta, kita mengenal seorang pedagang dari tanah India, yang bernama Dewawarman I. Beliau dikenal sebagai pendiri Kerajaan Salakanagara. Ada sejarawan berpendapat, bahwa Dewawarman I adalah indentik dengan Haji Saka Ajisaka. Akan tetapi apabila kita selusuri lebih mendalam, sepertinya keduanya adalah dua orang yang berbeda. Ajisaka Haji Saka, tidak dikenal sebagai pendiri sebuah Kerajaan, melainkan dikenal membawa pengetahuan penanggalan, bagi penduduk Jawa. Sebaliknya Dewawarman I adalah pendiri Kerajaan Salakanagara, dan tidak ada riwayat yang menceritakan, bahwa beliau pelopor Kalender Saka. Dewawarman I di-indentifikasikan berasal dari Dinasti Pallawa Pahlavas, beliau berkebangsaan Indo-Parthian, yang berkemungkinan salah satu leluhurnya adalah Arsaces I King of PARTHIA. Dan jika diselusuri silsilahnya akan terus menyambung kepada Artaxerxes II of Persia bin Darius II of Persia bin Artaxerxes I of Persia bin Xerxes I “The Great” of Persia bin Atossa of Persia binti Cyrus II “The Great” of Persia Zulqarnain. Sumber The PEDIGREE of Arsaces I King of PARTHIA dan Menemukan Zul-Qarnain, dalam Sejarah Sementara Ajisaka Haji Saka, di-identifikasikan berasal dari Sakas Western Satrap, beliau berkebangsaan Indo-Scythian, dimana susur galurnya besar kemungkinan, menyambung kepada keluarga kerajaan di India Utara King Moga/Maues. Sumber Indo-Scythians dan Maues, Wikipedia Namun ternyata, kedua Leluhur masyarakat Sunda dan Jawa ini, memiliki satu persamaan, yakni Dewawarman I Indo-Parthian dan Ajisaka Indo-Scythian, sesungguhnya merupakan Zuriat Keturunan dari Nabi Ishaq bin Nabi Ibrahim Bani Ishaq, yaitu melalui dua anaknya Nabi Yakub Jacob dan Al Aish Esau. Sumber THE TWO HOUSES OF ISRAEL, Who were the Saxons/Saka/Sacae/Scythians? Sons of Isaac, Komunitas Muslim, dari Bani Israil dan Connection Majapahit, Pallawa dan Nabi Ibrahim ? WaLlahu a’lamu bishshawab Artikel Lainnya… 01. Misteri Leluhur Bangsa Jawa 02. Sejarah Melayu, Teori Sundaland dan Naskah Wangsakerta 03. Jejak Nabi Nuh, dalam Gen Leluhur Nusantara Haplogroup O1aM119 Jakarta - Aksara Jawa merupakan aksara yang digunakan sebagai sarana penulisan pada zaman dahulu. Aksara ini disebut juga dengan Hanacaraka, Carakan, dan diketahui secara pasti kapan aksara Jawa mulai dikenal dan digunakan untuk menyebarkan informasi. Sebelum berkembang menjadi ha-na-ca-ra-ka, aksara ini lebih dikenal sebagai aksara Jawa Kuno, menurut sejumlah penelitian paleografi di Aksara JawaTokoh Aji Saka disebut-sebut sebagai pencipta aksara Jawa, menurut catatan sejarah populer. Dikutip dari buku Makna Simbolik Legenda Aji Saka yang ditulis oleh Slamet Riyadi, Aji Saka bukanlah pencipta Aksara Jawa melainkan pembangun dan penyempurnaan aksara Serat Aji Saka dalam kumpulan teks Suluk Plenceung koleksi Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, setelah mendapatkan wejangan ilmu kesempurnaan dari Begawan Antaboga, Raden Aji pergi ke Mekah untuk berguru kepada Nabi Muhammad perjumpaan itu, Aji Saka diminta untuk menciptakan aksara sebagai perimbangan aksara Arab. Ia kemudian menciptakan aksara ha-na-ca-ra-ka yang berjumlah 20. Diperkirakan aksara diciptakan pada abad itu, pendapat lain sebagaimana diutarakan oleh Hadisoetrisno, pencipta aksara ha-na-ca-ra-ka adalah Prabu Nur Cahya atau Sang Hyang Nur Cahya di negeri Dewani yang memiliki tanah jajahan sampai negeri Arab dan Nur Cahya merupakan putra Sang Hyang Sita atau Nabi Sis. Selain aksara Jawa, dia diketahui menciptakan aksara Latin, Arab, China, dan lainnya. Aksara tersebut disebut Sastra Hendra Prawata. Dalam hal ini, Aji Saka berperan sebagai pembangun dan penyempurna bentuk aksara Jawa sebagaimana disempurnakan oleh Aji Saka terdiri dari 20 aksara. Dikutip dari buku Pelestarian dan Modernisasi Aksara Daerah yang disusun oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, terdapat arti kata yang menjadi hafalan sebagaimana tertulis dalam Layang Ha-na-ca-ra-ka, sebagai berikutha na ca ra ka ada utusanda ta sa wa la mereka saling tidak cocokpa dha ja ya nya sama-sama unggulma ga ba tha nga sama-sama menjadi mayatJenis-jenis Aksara Jawa LengkapDikutip dari buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk, berikut aksara Jawa lengkap dengan pasangan dan juga Aksara Jawa dan PasangannyaAksara Jawa terdiri dari 20 aksara. Untuk menekan vokal konsonan di depannya, dibutuhkan pasangan dari masing-masing Jawa dan pasangannya. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk2. Aksara MurdaAksara Jawa jenis ini digunakan untuk menulis awal kalimat dan bisa digunakan untuk menulis gelar, kota, dan murda dan pasangannya. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk3. Aksara SwaraAksara swara merupakan huruf vokal yang terdiri dari A I U E swara. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk4. Aksara WilanganAksara wilangan digunakan untuk menuliskan wilangan. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkk5. SandhanganSandhangan merupakan simbol tambahan yang digunakan untuk menuliskan huruf aksara Jawa. Foto Buku Pepak Bahasa Jawa oleh Febyardini Dian dkkContoh Penggunaan Aksara JawaUntuk lebih jelasnya, berikut contoh penulisan aksara Jawa yang diberi pasangan dan Buku Sinau Maca Aksara Jawa oleh Bejo Simak Video "Suasana Tradisi Apitan di Semarang" [GambasVideo 20detik] kri/lus